Member Of

KEB

Jumat, 08 Maret 2013

Penjual Lepet Bertangan Cacat






(Kakek yang tadi kutemui di Pasar Kemiri. Lengan kanannya cacat)
Selalu saja menemukan hal-hal yang membuat saya tuh..emm...apa  ya? Ya pokoknya selalu harus bersyukur, harus eling sama yang diatas.  Ya something like that lah. Tadi,pulang jemput Danu aku ke pasar Kemiri untuk mencari stroberi.Ternyata kosong,datangnya masih nanti sore. Lalu lanjut belanja lengkuas,dkk. Usai belanja , mataku berkeliling mencari-cari apalagi yang perlu dibeli mumpung masih di pasar. Dan tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah lengan baju koko hitam (atau biru dongker) yang tampak tak ada tangannya karena lengan tersebut terjuntai tetapi ada pisau terapit di sana. Mataku reflek melihat ke bagian atas untuk melihat siapa pemakai baju koko tersebut. Masya Allah,ternyata seorang kakek tua. Rupanya tangan kanan kakek tersebut cacat (atau buntung). Aku mengamati dagangannya.Oh,dia jual lepet sama ketupat. “Ayo mas kita ke bapak tua itu, kita beli dagangannya. Dia cacat,”kataku sambil menggandeng Haifa. Danu yang sudah terbiasa dengan hal seperti itu (bertemu pedagang tua lalu aku ajak belanja di tempatnya)mengikuti. Sekarang, sudah jadi kebiasaan buat Danu,kalau ada pemulung atau pedagang tua selalu memintaku untuk membeli daganganya atau memberinya sesuatu.
Aku membeli segabung lepet. Kakek berpeci hitam itu bilang harganya 7000. Aku lihat dagangannya masih ada beberapa. Biasanya ,ketupat dan lepet habis pagi-pagi tapi kurang tahu kalau di pasar kemiri mengingat itu pasar besar di mana ayam samapi malam itu masih ada.
Kakek tua itu mengingatkanku pada Kakek tua penjual kacang sangrai di Kemayoran. Kakek itu kutemui ketika pulang jemput Danu les. Kalau keluar rumah,kami selalu mampir ke lapaknya di pinggir jembatan Sukamulya. Juga mengingatkanku kakek tua oenjual bayam dan buah-buahan di Pasar Depok Lama yang selalu kutemui bila ke sana. Atau kakek penjual tape,penjual ulegan,dan penjual lain-lainnya. Ibuku juga sudah sepuh dan ngeyel tetep jualan padahal sudah kuminta berhenti,biar aku saja yang menanggung hidupnya. Tapi diam-diam balik ke Jakarta lagi dan berjualan lagi.

(
(Ini kakek penjual kacang yang di Kemayoran)

Aku senang bertemu dengan mereka-mereka itu.Atau anak ABG yang memikul bertumpuk tumpuk ulegan dan lumpang dari batu. Mereka –mereka itu selalu mengingatku tentang banyak hal. Syukur, kerja keras, qona’ah. Dan seterusnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar