Member Of

KEB

Jumat, 01 Maret 2013

Tentang Bekerja dan Pengemis Gadungan

Bismillahirrahmaanirrahiim

Rasulullah bersabda, “Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa dan sebagainya),” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi)

Perempuan lanjut dan berbadan bongkok itu biasa disapa Mak Deni. Ia bersama suaminya yang tak kalah lanjut usianya berdagang sayuran di pasar. Sebuah meja yang tak begitu luas digunakan untuk menggelar berbagai jenis sayuran dan bumbu sebagai barang daganganya. Ia dan suaminya mangkal di depan sebuah toko perabot. ‘Kios’ Mak Deni selalu ramai pembeli karena harga sayurannya lebih murah daripada di tempat pedagang lain. Selain itu Mak Deni murah hati dan ramah karena ia selalu tersenyum meski saya seringkali menyaksikan ada pembeli yang memanfaatkan kemurahan hatinya dan keramahannya yaitu dengan menawar harga yang tak wajar atau meminta tambah atas apa yang dibelinya.

Suatu kali saya pernah menyaksikan seorang pengemis di ‘kios’ Mak Deni. Tentunya ia sedang mengharapkan belas kasihan Mak Deni. Pakaiannya lusuh dan kumal, badan kotor penuh debu tebal menghitam menandakan tidak dibersihkan berhari-hari. Tapi saya perhatikan dibalik penampilan khas pengemis yang sering kita saksikan di berbagai sudut kota Jakarta tersebut, pengemis itu berbadan tegap, tampak masih segar dan tentunya usianya jauh lebih muda daripada Mak Deni dan suaminya. Saya tidak tau apakah Mak Deni mengisi telapak tangan yang menadah tersebut dengan sekeping dua keeping atau selembar dua lembar rupiah karena saya memang tak menyaksikan ‘adegan’ selanjutnya. Tapi dalam pandangan saya yang singkat atas peristiwa tersebut saya berpikir dan berprasangka, kok pengemis itu enggak malu ya meminta-minta pada seorang tua renta macam Mak Deni? Bukankah ia sebenarnya masih mampu mencari nafkah dengan cara yang lebih terhormat? Saya rasa menjadi kuli panggul di pasar lebih terhormat daripada menjadi pengemis mengingat kondisi fisiknya masih kuat. Malas atau…? Ah, semoga saja persangkaan saya salah. Semoga saja ia menjadi pengemis karena memang fisiknya tidak memungkinkan untuk bekerja.

Terlepas dari peristiwa di atas bukankah kita sering menyaksikan orang-orang yang terhitung masih segar bugar dan sehat wal afiat lebih memilih menjadi pengemis atau peminta-minta? Alasan yang mereka gunakan kenapa mereka memilih menjadi pengemis daripada bekerja adalah tidak adanya lapangan pekerjaan, tidak punya ijazah, dan alasan-alasan lain yang sebenarnya dibuat-buat. Andai saja mereka tidak berpegang teguh pada pandangan mereka bahwa bekerja itu harus di kantor, memakai baju licin dan wangi tentu mereka tak akan memilih menjadi peminta-minta. Dan andai saja mereka tak mempunyai sifat malas dan mau sedikit melepas rasa malu yang salah tempat dan gengsi, tentu lebih memilih menjadi kuli panggul, pedagang asongan, atau pengecer koran. Satu kali mereka terjun menjadi pengemis akan membuat mereka ketagihan karena penghasilan sebagai pengemis sungguh fantastis. Tinggal berakting memelas, sedikit berpanas-panas sambil menadahkan tangan maka rupiah akan mendarat di telapak tangan. Tanpa kerja keras tapi penghasilan menggiurkan. Siapa yang tidak tergoda, coba? Tapi sungguh bekerja sebagai pengemis sama juga menghinakan diri, tidak saja di hadapan manusia tapi di hadapan Allah kelak. Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, jika seseorang di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar, kemudian dipikul ke pasar untuk dijual, dengan bekerja itu Allah mencukupi kebutuhanmu, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim). Memang ada sebagian pengemis yang memang pengemis ‘asli’ artinya fisik mereka memang tidak mampu bekerja lagi entah karena usia yang sangat lanjut ataupun cacat, tak punya sanak saudara lagi yang menanggung mereka dan memang itulah satu-satunya pilihan ‘profesi’ yang harus dijalaninya tapi sungguh sepanjang pengalaman saya mengamati para pengemis jumlah mereka tak sebanyak pengemis ‘gadungan’.

Di antara banyaknya jiwa-jiwa pemalas dan mau enaknya saja tersebut masih ada Mak Deni dan suaminya yang tidak malu harus lesehan di pinggiran pasar dan mau bekerja keras untuk mencari nafkah halal dan terhormat. Senyum ramah di bibirnya yang tak lagi merah selalu saya saksikan menghiasi wajahnya yang keriput. Di sana tergambar jelas aura jiwa yang tak mau menyerah dan pasrah pada nasib. Dan sungguh dalam pandangan saya Mak Deni dan suaminya jauh lebih mulia daripada pengemis-pengemis gadungan tersebut.

“Pekerjaan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perjualbelian yang dianggap baik,” (HR Ahmad dan Baihaqi).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar