Member Of

KEB

Minggu, 21 Oktober 2018

Explore Yogyakarta 1 : Upside Down World




Bismillahirrahmanirrahiim…

Ketika disebut Yogyakarta, yang tergambar di benakku adalah tradisional, eksotis, ramah,dan etnik. Menurutku imej sebagai kota pendidikan sudah tidak begitu kental melekat pada kota Yogyakarta namun justru kota wisata yang lebih lekat ke kota yang pernah menjadi ibu kota negara Republik Indonesia ini. Tiap hari libur,kota Yogyakarta selalu padat oleh pengunjung dari luar Yogyakarta sendiri. Tempat wisata pun sangat banyak, mulai dari yang sederhana hingga yang kekinian. Menurut info dari portal berita maupun dari teman teman yang tinggal di Yogyakarta, kemacetan selalu mewarnai ketika libur panjang tiba. Penginapan pun tersebar di seluruh kota ,muali dari yang murah hingga yang mahal. Nha ,benar kan lebih lekat sebagai kota wisata daripada kota pendidikan tapi tetap,sih menyekolahkan anak di Yogyakarta jadi pilihan kami. Kalau jenguk sekalian piknik hehe.





Upside Down Wolrd yang Instagramable !
Nha beberapa hari yang lalu kami mencoba meng-explore Kota Yogyakarta yang eksotis ini. Meski untuk makanan terhitung murah tapi untuk tiket masuk tempat wisata sama ,lho dengan di Jadebotabek, mahal hehe. Tapi masih mendingan ,sih daripada di Jadebotabek, makanan mahal,tiket wisata mahal hehe. Tapi mahal atau murah itu hal relatif,sih. Ini kubilang mahal karena pakai ukuran dompet kami :D


 Tempat pertama yang kami kunjungi adala Upside Down World (UDW) di kabupaten Sleman. Tempat wisata ini memang hanya menawarkan spot foto,sih tapi spot fotonya unik. Menurut info yang saya baca, UDW ini dibuat setelah pembuatan pertama di Bali sukses. Uniknya bagaimana ,sih ? Jadi UDW itu sebenarnya sebuah rumah biasa dengan peralatan rumah tangga seperti yang kebanyakan orang punya, ada kulkas, kompor, ruang tamu,kursi,ranjang, dll . Persis seperti rumah kita,deh. Bedanya,kalau di rumah kita meletakannya secara normal ,nha di UDW ini diletakan secara terbalik. Kulkas terbalik, mesin cuci terbalik ,semua terbalik. Tapi kita gak perlu ikut terbalik,kok bila ingin berfoto hehe. Biar tool edit foto ajah yang membaliknya. Bingung,ya? Tidak perlu. Nanti begitu masuk, ada petugas yang menginformasikan bagaimana cara berfoto, mengarahkan gaya gitu lah. Tidak cukup sampai di situ, Mas penjaga ini juga mau membantu memotret,lho. Di dinding tiap spot pun ada contoh gaya berfoto agar benar benar seperti terbalik. Nha setelah kamu bergaya dan dijepret, beliau akan memberitahu agar foto di rotate. Wah jadi,deh foto terbalik yang unik dan lucu. Instagramable !


Lokasi
UDW berlokasi di jalan Ring road utara, Maguwoharjo,Depok,Sleman,Yogyakarta. Hari gini tidak perlu bingung mencari lokasi yang ngehits sejak 2017 ini, gunakan google map atau wazw tentu saja. Lokasinya di pinggir jalan dengan area parkir yang terbatas,hanya tampak seperti rumah 2 lantai biasa. Saya kurang tahu andaikan pengunjung penuh parkir di mana. Pastinya ada petugas parkir jadi nanti pati akan diarahkan parkir di mana. Biaya parkir dibayar di awal sebesar 5000/ mobil. Bila kalian hendak ke sana,mungkin lebih baik menghindari weekend. Selain parkir penuh juga pasti butuh antri untuk masuk ke UDW. Kalaupun terpak weekend maka datang awal lebih baik. Oh ya,jam UDW buka mulai dari pukul 10.00 hingga pukul 21.00



TIKET
Meski untuk jajanan terhitung murah tapi untuk tiket wisata ternyata sama saja dengan di Jadebotabek. Menurutku tiketnya relatif mahal, rp80.000/ orang. Bila anak anak di bawah umur rp30.000/ anak. Ya mungkin memang tempat wisata kekinian dan anti mainstream itu mahal apalagi instagramable . Memang tidak membutuhkan waktu lama untuk menjelajahi UDW ini namun namun spot fotonya unik ,mungkin itu yang bikin mahal. Jangan dibandingkan dengan musium ya.












Fasilitas
Fasilitas yang disediakan hanya toilet, ruang tunggu, dan tempat untuk menyimpan sandal/ sepatu karena memasuki ruangannya harus melepas alas kaki. Supaya kaki kita tidak berdebu,gunakan kaos kaki,ya. Kantin pun tidak ada,hanya ada kulkas yang menjual minuman. Mungkin karena hanya membutuhkan waktu sebentar untuk mengeksplore UDW maka fasilitas pun terbatas.

Untuk menambah informasi lagi mengenai UDW, kalian bisa browsing,ya. Banyak ,kok ulasan tentang tempat wisata yang berdiri sejak 2016 ini. Untuk akses ke sana menggunakan kendaraan apa,kami juga tidak paham karenatidak tinggal di sana hehe. Paling gampang ,sih dengan taksi atau gojek online.  Selamat berkunjung,ya.






Sabtu, 20 Oktober 2018

Kemping di Taman Nasional Gunung Halimun Salak


Bismillahirrahmaanirrahiim

Sukabumi mirip dengan Bogor ,banyak camping ground dan curug. Bedanya,kalau akses ke Sukabumi hanya beberapa titik terjadi kemacetan yaitu di Ciawi dan wilayah pasar meski kalau lagi parah,lumayan lama juga stag-nya. Bila berangkat lebih pagi maka akan terhindar kemacetan yang parah.

DI Blog ini sudah ada beberapa review camping ground di Sukabumi,lho,ya. Jadi silahkan dicari cari. Kali ini kami explore Sukabumi lagi . Awalnya,sih ke camping ground yang dikelola swasta tapi kami bawa tenda dan makan sendiri,artinya hanya membayar tempat. Tetapi perjalanan ke camping ground tersebut nyasar dan justru mengantarkan kami ke camping ground yang di kelola pemerintah yaitu camping ground Taman Nasional Halimun Salak . Letak Taman Nasional terluas di Pulau Jawa ini saling bedekatan dengan beberapa camping ground yang di kelola swasta.

Keunikan dari Taman Nasional yang dikelola oleh Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) ini terletak di 2 provinsi yaitu Jawa Barat dan Banten ,serta terletak di 3 kabupaten yaitu Bogor,Sukabumi, Lebak. Itulah kenapa TNGH yang sebelumnya dikelola oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini menjadi taman nasional terluas. Konon, TNGHS yang merupakan kawasan konversi seluas 113.357 ini merupakan surga bagi para peneliti dan penikmat wisata alam. Wisata alam yang kami nikmati saat itu adalah camping ground dan curug.

Camping groundnya sangat luas ada 3 blok menurut keterangan yang saya dapat. Curug pun ada beberapa di sekitar camping ground yang kami pilih. Saat itu kami masuk dari Sukabumi ,ya. Menurut info yang saya baca memang ada beberapa pintu masuk mengingat TNGHS ini masuk wilayah administrasi 3 kabupaten. Camping groundnya luas, bersih,rindang,dan sejuk di bawah pohon pohon besar . Anak anak sangat menyukai camping ground ini , mereka bisa bebas berlarian ke sana kemari karena arenya sangat luas dan relatif aman. Begitu memasuki gerbang taman, kita bisa mencari informasi sedetail mungkin di pos penjagaan atau pusat informasi . Saya awalnya buta sama sekali dengan kawasan ini namun petugas ramah menjelaskan.

MCK lumayan memadai
Lokasi dan Akses
Menurut yang saya baca TNGHS ini berlokasi di jalan raya cipanas ,kebandungan,sukabumi. Di maps sudah ada titil koordinatanya jadi mudah untuk mencarinya,ya.
Kalau dari Jakarta dan Depok tentu melewati tol jagorawi,pilih yang ke arah Sukabumi lalu keluar di pintu tol Ciawi dilanjut ke arah parung kuda,selanjutnya nama nama daerahnya tidak begitu hapal. Lebih baik gunakan maps saja,ya hehe. Tidak rumit rutenya tapi memang ada bagian kita harus melewati jalan yang sempit dan bercabang,hati hati salah arah karena operator yang bisa aktif di daerah sana seringnya hanya XL dan smartfriend.












pintu masuk bersebelahan dengan Batu Tapak
Tiket
Tiket masuk cukup murah. Bagi yang hanya ingin berjalan jalan tanpa kemping di tiket tertulis tarifnya rp5000 dan asuransi 2000,di luar parkir kendaraan ya. Untuk yang ingin kemping saat itu dikenakan 19.000/ orang sudah termasuk asuransi dan parkir mobil Rp10.000/ mobil. Itu tarif untuk satu malam, bisa dibilang 2 hari 1 malam. Cukup murah,kan dibandingkan dengan camping ground yang di kelola swasta hehe.

Fasilitas
Fasilitas standar,sih tapi memang camping groundnya ini ramah anak jadi cocok untuk family camp yang masih punya balita sekalipun. Toilet lumayan,ya tetapi kalau untuk mushola di blok saya kemping belum menemukan tapi sholat di samping tenda juga tidak masalah,sih .














Curug
Di sekitar TNGHS ini terdapat banyak curug,hanya saja lokasinya memang relatif jauh dari kemping ground. Saat itu curug yang paling dekat tenda kami saja yang kami kunjungi. Jaraknya relatif jauh dengan trek lumayan tricky. Kanan kiri jalan setapak merupakan hutan lebat. Sampai di lokasi pun,kita akan dikejutkan dengan kondisi curug yang seperti baru saja kena banjir bandang dan longsor. Banyak bagian curug yang ambrol, pohon pohon tumbang hampir menutup sungai di bawah curug meski bisa dijadikan jembatan untuk menyebrang . Kain warna warni yang terbawa hanyut air bah berada di sekitar curug. Jalannya sangat licin dan terjal,sebagian tanah yang kita pijak pun bisa tiba tiba ambrol. Hindari mengunjungi curug di sore hari atau ketika hujan,sangat berbahaya. Air curug di sekitar TNGHS memang terkenal sangat dingin bahkan di siang hari sekalipun. Namun sayang sekali, kami tidak menemukan papan nama curug.






Di sebelah curug yang kami kunjungi ada jalan setapak dengan pambatas. Menurut informasi yang kami dapat, jalan setapak yang menanjak tersebut merupakan jalan menuju curug selanjutnya. Namun kami enggan untuk melanjutnya ke curug selanjutnya mengingat anak-anak sudah sangat kedinginan dan lokasi yang sangat jauh. Selama di curug sebaiknya jaga sikap, jangan membuang sampah sembarangan, perhatikan keselamatan diri.
Bekas Longsor


Untuk informasi lain yang sekiranya belum kami tulis,bisa didapat dengan cara browsing ya. Banyak sekali informasi mengenai TNGHS ini. Semoga tulisan ini bermanfaat.








kanan kiri hutan lebat.Sejuk.