Selasa, 25 Desember 2018

Explore Yogyakarta Part 2 : Hutan Pinus Mangunan


Bismillahirrahmanirahiim….

Sebenarnya Explore Yogyakarta part 2 itu Monjali, lanjut Prambanan tapi saya dahulukan yang wisata alam ajah,ya hehe. 

Daerah Istimewa Yogyakarta memang terkenal sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah maka Yogyakarta itu nyata sekali uniknya . Meski ada yang menyebut Yogyakarta itu paket lengkap karena semua jenis destinasi wisata ada, sejarah,budaya,bahkan industri namun menurut saya pribadi yang kental banget mengenai Yogyakarta ya memang tempat wisata budaya dan sejarah. Apapun,yang jelas Yogyakarta itu istimewa dan unik. Keunikkan Yogyakarta bikin kangen setiap orang . Namun,belum juga semua destinasi wisata budaya dan sejarah di Yogyakarta saya kunjungi, hati saya tiba tiba merubah image Yogkarta sedemikian rupa. Memang,sih saya melihat salah satu destinasi wisata sejarah yaitu Monumen Jogja Kembali mulai kekinian yaitu meski berupa tujuan wisata sejarah tapi jauh dari kesan usang ,sebaliknya malah cheerful meski ya...jadi kurang menjiwai tapi saya yakin tujuannya supaya Monumen yang keberadaannya sangat penting tersebut tidak tergilas oleh destinasi wisata yang kekinian yang sekarang kian menjamur di Yogyakarta . Namun, sepertinya geliat destinasi wisata lain yang tidak termasuk dalam lingkup destinasi wisata budaya dan sejarah lebih besar. Maka serta merta image saya tentang Jogja berubah begitu saja. Destinasi wisata genre apa,sih yang merupah image saya tentang kota yang ramah ini? Wisata alam. Meski destinasi wisata alam ini hanya banyak kita temui di kabupaten Bantul dan Gunung Kidul,ya, bukan di tengah kota Yogyakarta. Namun karena budaya masyarakat Yogyakarta yang ramah itu terasa di seluruh sendi kehidupan di Yogyakarta maka meski wisata alam namun mempunya nilai budaya juga,sih menurut saya.

Di wilayah perkotaan hingga kabupaten sleman memang banyak destinasi wisata budaya dan sejarah namun di kabupaten Gunung Kidul dan Bantul akan banyak ditemui destinasi wisata alam. Begitu,sih pemetaan sementara dari saya hehe. Nha, supaya mukadimahnya gak kepanjangan ,untuk explore Yogyakarta part selanjutnya mau mengulas destinasi wisata alam di kabupaten Bantul. Oh,ya ini murni opini pribadi,ya. Bilamana ada info yang salah ,mohon untuk diluruskan,ya. Maklum,saya bukan orang Yogyakarta. Saya hanya orang yang menyukai Yogyakarta . 








sejuk
Destinasi wisata alam yang kali pertama kami kunjungi adalah sebuah hutan pinus di kawasan kecamatan Dlingo yaitu Hutan Pinus Sari Mangunan atau Hutan Pinus Mangunan atau Hutan Pinus Imogiri karena letaknya memang dekat Imogiri. Sebenarnya penyebutan Hutan Pinus Imogiri itu jelas salah karena memang lokasinya tidak di Imogiri,namin di Mangunan. Di sebut hutan pinus imogiri karena memang banyak pengunjung yang menuju lokasi melalui Imogiri. Ada beberapa hutan pinus di kawasan ini ,untuk jumlahnya kurang tahu, namun kami baru mengunjungi dua tempat.
Hutan Pinus Mangunan yang kini banyak spot untuk berfoto ini mulanya hanya hutan lindung yang dikelola oleh RPH Mangunan. Karena banyaknya foto yang beredar di internet maka hutan lindung yang luasnya sekitar 5 ha ini ,kini dikelola oleh masyarakat sekitar untuk destinasi wisata atas izin RPH Mangunan.


spot foto kekinian
Lokasi dan Akses
Lokasi Hutan Pinus yang kian terkenal ini di Mangunan, Dlingo, kabupaten Bantul,sekitar 24 km dari pusat kota Yogyakarta. Ternyata di saat liburan, jalur ke kawasan ini juga sangat padat dan tentu tidak semulus di jalan kota namun itulah istimewanya berkunjung ke sebuah destinasi wisata alam hehe. Tapi menurutku akses ke lokasi masih terbilang wajar, kalau ada jalan berbatu,nanjak , turun ya memang itu ciri khas wisata alam,ya. Akan sangat kurang dapat ‘feel’ nya kalau wisaya alam tapi aksesnya mulus seperti jalan tol hehe. Untuk memudahkan menjangkau lokasi,tentu gunakan google map atau waze,cari saja dengan keyword Hutan Pinus Mangunan. Sinyal memang kurang stabil maka tinggal pinggirkan kendaraan, bertanyalah ke penduduk, mereka akan menjawab dengan ramah dan suka cita. Ya karena mereka akan memberikan info sedetil mungkin dengan sopan. Itulah salah satu istimewanya budaya Jawa. Jadi overall,aksesnya mudah,kok dijangkau dengan motor ,kendaraan roda 4 yang bukan 4x 4 sekalipun. Satu satunya masalah ya cuman padat atau macet saja menurutku. Oh,ya, kalau malam memang gelap ya aksesnya karena kanan kiri hutan.


banyak saung untuk bersantai
Tiket
Jogja istimewa maka tiket masuk hutan seindah itu hanya 2500/ orang. Untuk parkir kendaraan roda 4 hanya 5000/ kendaraan. Sungguh istimewa ,ya buat kami warga Jadebotabek. 2500 rupiah biasanya untuk satu kue,eh di Bantul bisa buat beli tiket tempat piknik yang eksotis seperti Hutan Pinus Mangunan ini. Untuk makanan tentu juga relatif lebih murah daripada di Jadebotabek meski di kawasan wisata sekalipun.

Fasilitas
Hutan pinus yang kini kian ngehit ini mempunyai fasilitas umum sebagaimana tempat wisata lainnya untuk kenyamanan pengunjung, seperti toilet, mushola dan area parkir. Menurut pengamatan saya, wisata alam di kawasan ini semuanya menyediakan camping ground area. Mungkin info lebih lanjutnya bisa mendatangi lokasi. 


melalui menara ini kalian bisa mengamati
 hutan pinus dan sekitarnya dari atas. Antri.

batu besar bisa jadi spot untuk berfoto.
buatlah foto sekreatif mungkin,ya

Intagramable !
Selain cocok untuk piknik keluarga dengan menggelar tikar dan bercengkrama, Hutan Pinus Mangunan juga mempunyai banyak spot untuk selfi ataupun foto bersama pasangan (sebaiknya pasangan yang halal ya hehe). Suasanya teduh,sejuk, adem, seksi,eksotis ,halah...pokoknya indah,deh soalnya saya penyuka hutan,sih.




Minggu, 21 Oktober 2018

Explore Yogyakarta 1 : Upside Down World




Bismillahirrahmanirrahiim…

Ketika disebut Yogyakarta, yang tergambar di benakku adalah tradisional, eksotis, ramah,dan etnik. Menurutku imej sebagai kota pendidikan sudah tidak begitu kental melekat pada kota Yogyakarta namun justru kota wisata yang lebih lekat ke kota yang pernah menjadi ibu kota negara Republik Indonesia ini. Tiap hari libur,kota Yogyakarta selalu padat oleh pengunjung dari luar Yogyakarta sendiri. Tempat wisata pun sangat banyak, mulai dari yang sederhana hingga yang kekinian. Menurut info dari portal berita maupun dari teman teman yang tinggal di Yogyakarta, kemacetan selalu mewarnai ketika libur panjang tiba. Penginapan pun tersebar di seluruh kota ,muali dari yang murah hingga yang mahal. Nha ,benar kan lebih lekat sebagai kota wisata daripada kota pendidikan tapi tetap,sih menyekolahkan anak di Yogyakarta jadi pilihan kami. Kalau jenguk sekalian piknik hehe.





Upside Down Wolrd yang Instagramable !
Nha beberapa hari yang lalu kami mencoba meng-explore Kota Yogyakarta yang eksotis ini. Meski untuk makanan terhitung murah tapi untuk tiket masuk tempat wisata sama ,lho dengan di Jadebotabek, mahal hehe. Tapi masih mendingan ,sih daripada di Jadebotabek, makanan mahal,tiket wisata mahal hehe. Tapi mahal atau murah itu hal relatif,sih. Ini kubilang mahal karena pakai ukuran dompet kami :D


 Tempat pertama yang kami kunjungi adala Upside Down World (UDW) di kabupaten Sleman. Tempat wisata ini memang hanya menawarkan spot foto,sih tapi spot fotonya unik. Menurut info yang saya baca, UDW ini dibuat setelah pembuatan pertama di Bali sukses. Uniknya bagaimana ,sih ? Jadi UDW itu sebenarnya sebuah rumah biasa dengan peralatan rumah tangga seperti yang kebanyakan orang punya, ada kulkas, kompor, ruang tamu,kursi,ranjang, dll . Persis seperti rumah kita,deh. Bedanya,kalau di rumah kita meletakannya secara normal ,nha di UDW ini diletakan secara terbalik. Kulkas terbalik, mesin cuci terbalik ,semua terbalik. Tapi kita gak perlu ikut terbalik,kok bila ingin berfoto hehe. Biar tool edit foto ajah yang membaliknya. Bingung,ya? Tidak perlu. Nanti begitu masuk, ada petugas yang menginformasikan bagaimana cara berfoto, mengarahkan gaya gitu lah. Tidak cukup sampai di situ, Mas penjaga ini juga mau membantu memotret,lho. Di dinding tiap spot pun ada contoh gaya berfoto agar benar benar seperti terbalik. Nha setelah kamu bergaya dan dijepret, beliau akan memberitahu agar foto di rotate. Wah jadi,deh foto terbalik yang unik dan lucu. Instagramable !


Lokasi
UDW berlokasi di jalan Ring road utara, Maguwoharjo,Depok,Sleman,Yogyakarta. Hari gini tidak perlu bingung mencari lokasi yang ngehits sejak 2017 ini, gunakan google map atau wazw tentu saja. Lokasinya di pinggir jalan dengan area parkir yang terbatas,hanya tampak seperti rumah 2 lantai biasa. Saya kurang tahu andaikan pengunjung penuh parkir di mana. Pastinya ada petugas parkir jadi nanti pati akan diarahkan parkir di mana. Biaya parkir dibayar di awal sebesar 5000/ mobil. Bila kalian hendak ke sana,mungkin lebih baik menghindari weekend. Selain parkir penuh juga pasti butuh antri untuk masuk ke UDW. Kalaupun terpak weekend maka datang awal lebih baik. Oh ya,jam UDW buka mulai dari pukul 10.00 hingga pukul 21.00



TIKET
Meski untuk jajanan terhitung murah tapi untuk tiket wisata ternyata sama saja dengan di Jadebotabek. Menurutku tiketnya relatif mahal, rp80.000/ orang. Bila anak anak di bawah umur rp30.000/ anak. Ya mungkin memang tempat wisata kekinian dan anti mainstream itu mahal apalagi instagramable . Memang tidak membutuhkan waktu lama untuk menjelajahi UDW ini namun namun spot fotonya unik ,mungkin itu yang bikin mahal. Jangan dibandingkan dengan musium ya.












Fasilitas
Fasilitas yang disediakan hanya toilet, ruang tunggu, dan tempat untuk menyimpan sandal/ sepatu karena memasuki ruangannya harus melepas alas kaki. Supaya kaki kita tidak berdebu,gunakan kaos kaki,ya. Kantin pun tidak ada,hanya ada kulkas yang menjual minuman. Mungkin karena hanya membutuhkan waktu sebentar untuk mengeksplore UDW maka fasilitas pun terbatas.

Untuk menambah informasi lagi mengenai UDW, kalian bisa browsing,ya. Banyak ,kok ulasan tentang tempat wisata yang berdiri sejak 2016 ini. Untuk akses ke sana menggunakan kendaraan apa,kami juga tidak paham karenatidak tinggal di sana hehe. Paling gampang ,sih dengan taksi atau gojek online.  Selamat berkunjung,ya.






Sabtu, 20 Oktober 2018

Kemping di Taman Nasional Gunung Halimun Salak


Bismillahirrahmaanirrahiim

Sukabumi mirip dengan Bogor ,banyak camping ground dan curug. Bedanya,kalau akses ke Sukabumi hanya beberapa titik terjadi kemacetan yaitu di Ciawi dan wilayah pasar meski kalau lagi parah,lumayan lama juga stag-nya. Bila berangkat lebih pagi maka akan terhindar kemacetan yang parah.

DI Blog ini sudah ada beberapa review camping ground di Sukabumi,lho,ya. Jadi silahkan dicari cari. Kali ini kami explore Sukabumi lagi . Awalnya,sih ke camping ground yang dikelola swasta tapi kami bawa tenda dan makan sendiri,artinya hanya membayar tempat. Tetapi perjalanan ke camping ground tersebut nyasar dan justru mengantarkan kami ke camping ground yang di kelola pemerintah yaitu camping ground Taman Nasional Halimun Salak . Letak Taman Nasional terluas di Pulau Jawa ini saling bedekatan dengan beberapa camping ground yang di kelola swasta.

Keunikan dari Taman Nasional yang dikelola oleh Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) ini terletak di 2 provinsi yaitu Jawa Barat dan Banten ,serta terletak di 3 kabupaten yaitu Bogor,Sukabumi, Lebak. Itulah kenapa TNGH yang sebelumnya dikelola oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini menjadi taman nasional terluas. Konon, TNGHS yang merupakan kawasan konversi seluas 113.357 ini merupakan surga bagi para peneliti dan penikmat wisata alam. Wisata alam yang kami nikmati saat itu adalah camping ground dan curug.

Camping groundnya sangat luas ada 3 blok menurut keterangan yang saya dapat. Curug pun ada beberapa di sekitar camping ground yang kami pilih. Saat itu kami masuk dari Sukabumi ,ya. Menurut info yang saya baca memang ada beberapa pintu masuk mengingat TNGHS ini masuk wilayah administrasi 3 kabupaten. Camping groundnya luas, bersih,rindang,dan sejuk di bawah pohon pohon besar . Anak anak sangat menyukai camping ground ini , mereka bisa bebas berlarian ke sana kemari karena arenya sangat luas dan relatif aman. Begitu memasuki gerbang taman, kita bisa mencari informasi sedetail mungkin di pos penjagaan atau pusat informasi . Saya awalnya buta sama sekali dengan kawasan ini namun petugas ramah menjelaskan.

MCK lumayan memadai
Lokasi dan Akses
Menurut yang saya baca TNGHS ini berlokasi di jalan raya cipanas ,kebandungan,sukabumi. Di maps sudah ada titil koordinatanya jadi mudah untuk mencarinya,ya.
Kalau dari Jakarta dan Depok tentu melewati tol jagorawi,pilih yang ke arah Sukabumi lalu keluar di pintu tol Ciawi dilanjut ke arah parung kuda,selanjutnya nama nama daerahnya tidak begitu hapal. Lebih baik gunakan maps saja,ya hehe. Tidak rumit rutenya tapi memang ada bagian kita harus melewati jalan yang sempit dan bercabang,hati hati salah arah karena operator yang bisa aktif di daerah sana seringnya hanya XL dan smartfriend.












pintu masuk bersebelahan dengan Batu Tapak
Tiket
Tiket masuk cukup murah. Bagi yang hanya ingin berjalan jalan tanpa kemping di tiket tertulis tarifnya rp5000 dan asuransi 2000,di luar parkir kendaraan ya. Untuk yang ingin kemping saat itu dikenakan 19.000/ orang sudah termasuk asuransi dan parkir mobil Rp10.000/ mobil. Itu tarif untuk satu malam, bisa dibilang 2 hari 1 malam. Cukup murah,kan dibandingkan dengan camping ground yang di kelola swasta hehe.

Fasilitas
Fasilitas standar,sih tapi memang camping groundnya ini ramah anak jadi cocok untuk family camp yang masih punya balita sekalipun. Toilet lumayan,ya tetapi kalau untuk mushola di blok saya kemping belum menemukan tapi sholat di samping tenda juga tidak masalah,sih .














Curug
Di sekitar TNGHS ini terdapat banyak curug,hanya saja lokasinya memang relatif jauh dari kemping ground. Saat itu curug yang paling dekat tenda kami saja yang kami kunjungi. Jaraknya relatif jauh dengan trek lumayan tricky. Kanan kiri jalan setapak merupakan hutan lebat. Sampai di lokasi pun,kita akan dikejutkan dengan kondisi curug yang seperti baru saja kena banjir bandang dan longsor. Banyak bagian curug yang ambrol, pohon pohon tumbang hampir menutup sungai di bawah curug meski bisa dijadikan jembatan untuk menyebrang . Kain warna warni yang terbawa hanyut air bah berada di sekitar curug. Jalannya sangat licin dan terjal,sebagian tanah yang kita pijak pun bisa tiba tiba ambrol. Hindari mengunjungi curug di sore hari atau ketika hujan,sangat berbahaya. Air curug di sekitar TNGHS memang terkenal sangat dingin bahkan di siang hari sekalipun. Namun sayang sekali, kami tidak menemukan papan nama curug.






Di sebelah curug yang kami kunjungi ada jalan setapak dengan pambatas. Menurut informasi yang kami dapat, jalan setapak yang menanjak tersebut merupakan jalan menuju curug selanjutnya. Namun kami enggan untuk melanjutnya ke curug selanjutnya mengingat anak-anak sudah sangat kedinginan dan lokasi yang sangat jauh. Selama di curug sebaiknya jaga sikap, jangan membuang sampah sembarangan, perhatikan keselamatan diri.
Bekas Longsor


Untuk informasi lain yang sekiranya belum kami tulis,bisa didapat dengan cara browsing ya. Banyak sekali informasi mengenai TNGHS ini. Semoga tulisan ini bermanfaat.








kanan kiri hutan lebat.Sejuk.

Minggu, 21 Januari 2018

Explore Jonggol Part 4 : Villa Khayangan

Bismillahirrahmanirrahiim

Satu lagi destinasi wisata alam di kabupaten Bogor yang bagus banget. Villa Khayangan. Saya lebih senang menyebutnya di Jonggol karena memang itu yang terkenal. Sebenarnya letaknya di kecamatan Sukamakmur namun orang lebih sering menyebutnya Jonggol karena Sukamakmur memang sebuah kecamatan pemekaran dari kecamatan Jonggol. Kalau disebut Villa Khayangan Sukamakmur ,sepertinya kurang pas hehe,lebih enak disebut Jonggol.

Namun ini foto fotonya kurang maksimal,ya. Selain padat pengunjung ,juga kondisinya hujan jadi repot sekali mau ambil foto hehe. 

camping ground
Lokasi dan Akses
Villa yang berhawa sejuk ini letaknya ya sekitaran curug cipamingkis,curugciherang, dan danau rawa gede, tepatnya di kecamatan Sukamakmur tapi orang lebih terbiasa menyebut Jonggol jadi memang satu kawasan,ya. Di pertigaan Jonggol/ Sukamakmur,ke kanan ke Ciherang,ke kiri ke Cipamingkis, nha letak Villa khayangan ini di bawah sebelah kiri dari pertigaan tersebut. Jadi jalan masuknya, dari pertigaan tersebut ke kiri kira – kira 200 atau 300 m . FasilitasBeberapa puluh meter sebelum pertigaan pun bila kita mengok ke sebelah kiri bawah,sudah terlihat letak Villa Khayangan jadi tinggal menuju ke pintu masuknya. Bisa menggunakan google map atau bila sudah sampai di pertigaan,bisa menanyakan ke warga sekitar,di mana pintu masuk Villa Khayangan.

salah satu spot untuk foto : bingkau raksasa
Aksesnya tentu sama dengan yang pernah saya tulis di Curug Cipamingkis dan Curug Ciherang serta danau Rawa Gede . Sekali lagi,pastikan mobil dalam kondisi fit, driver mempunyai skill yang memadai. Biasanya laki laki ya,kalau perempuan kurang cocok di jalur Jonggol. Bagi yang belum terbiasa di jalan berkelok dan menanjak,siapkan obat anti mabuk atau plastik muntah. Oh ya lokasinya hanya bisa dijangkau kendaraan pribadi ya. Untuk kendaraan umum sangatlah jauh.

Fasilitas
Hara tiket masuk ke tempat wisata yang sedang ngehits ini Rp 15.000/ orang untuk weekday (senin-Jumat) dan Rp 30.000/ orang untuk weekend atau hari libur. Anak anak tidak dikenakan biaya tapi mengenai anak anak tanpa biaya ini resmi atau tidak saya tidak tahu tapi yang pasti untuk anak sebesar Haifa tidak dikenakan tarif saat itu. Untuk parkir mobil di area villa saya kurang tahu karena waktu itu saya parkir di luar area villa dengan tarif Rp20.000/ mobil


 saya harganya cukup murah karena fasilitasnya lumayan bagus, seperti
- kolam renang dengan air pegunungan asli yang alami dan dingin
- WC / kamar ganti yang saat ke sana lumayan bersih. Semoga bersih seterusnya
- Spot untuk foto yang banya, keren dan instagrambale banget. Pokoknya untuk pecinta selfi ,cocok banget.
- Taman bermain untuk anak
- Tempat santai,seperti terdapat ayunan, meja meja untuk nongki nongki
- cafe
- Mushola meski terlalu sempit
- Parkiran yang luas

taman anak
Nha fasilitas tersebut bisa kita gunakan tanpa harus membayar lagi. Spot untuk foto yang ngehits saat ini adalah background berbentuk hati dengan bunga bunga, saya tidak tau apa disebutnya. Ada bingkai foto raksasa, Perahu,dll dll. Belum lagi di sekeliling Villa yang merupakan pegunungan dan persawahan. Pokoknya pemandanganya oke banget. Di luar,sebelum masuk villa ada 2 spot foto favorit karena selalu ramai, kita bisa berfoto di tempat ketinggian dengan asesoris seperti sayap dan satu lagi mengesankan seperti outbond. Dua spot foto ini bisa dipakai tanpa harus membayar lagi,cukup menunjukkan tiket yang sudah dibeli. Awalnya ,saya pikir harus membeli tiket lagi namun saya memberanikan diri untk bertanya,apakah perlu membayar lagi? Petugasnya menjawab, cukup pakai tiket masuk yang tadi sudah dibeli.

salah satu sudut kolam renang dengan spot untuk foto 
Fasilitas berbayar pun ada ,yaitu villa dan tenda untuk kemping di lokasi camping ground. Harga sewa villa variatif,mulai dari Rp1000.000/ malam dan untuk sewa tenda di lokasi camping ground Rp500.000/ malam,bisa untuk 6 orang. Untuk camping ground terhitung murah,sih menurut saya. Kalian bisa rombongan dengan teman teman atau sekeluarga. Sewa tendanya ini sudah jadi,ya jadi kita tinggal menempati saja. 





area pertanian dan pegunungan mengelilingi kawasan villa.Indah
Oh ya, karena tempat ini sedang ngehits jadi weekend sangat dipadati pengunjung. Usahakan berangkat pagi pagi sekali jadi ketika sampai di sana masih sepi dan bisa mendapat parkir di dekat Villa. Waktu itu saya kesiangan karena harus kajian dahulu, sampai sana susah sekali untuk parkir dan kendaraan macet saking susahnya untuk parkir. Akhirnya parkir jauh dari Villa, agak mendekat ke Cipamingkis. Akibat kesiangan tersebut,kami kurang bisa menikmati keindahannya,untuk memfoto pun susah karena banyak orang lalu lalu maka hanya seperti di atas foto fotonya. 


Ini daftar harga sewa villa dan tenda di Villa khayangan, ada nomor kontak yang bisa dihubungi. Silahkan disimpan ,akan berguna bila sewaktu waktu membutuhkan. Oh ya,di sana tidak ada sinyal hp,ya. 


Rabu, 10 Januari 2018

Explore Tangerang 2 : Tebing Koja


Bismillahirrahmaanirrahiim

Nha sekarang kita di destinasi wisata alam (meski tidak alami) yang kedua di kabupaten tangerang. Letaknya tidak begitu jauh dari Telaga Biru Cigaru/DanauCisoka. Tebing Koja atau disebut juga Kandang Godzila memang instagramable banget meski sangat disayangkan ada spot spot yang banyak sampah bekas snack dan minuman hingga mengganggu pemandangan banget. Gak habis pikir sama orang orang jorok nan tidak bertanggung jawab ini, sudah dikasih tempat wisata, tempat selfi yang murah meriah eh buang sampah ajah sembarangan. Memang,sih di sana minim sekali tempat sampah atau bahkan tidak ada tapi,kan bisa di masukan kantong lalu dibuang ketika bertemu tempat sampah. Ketiadaan tempat sampah mungkin juga karena tempat wisata yang selalu rame untuk sesi pemotretan ini masih dikelola oleh masyarakat setempat atau malah secara pribadi. Semoga semakin hari semakin dikelola dengan baik,kebersihan dan keamanannya terjaga tapi pastinya akan jadi mahal ya hehe.

Tebing Koja merupakan bekas tambang pasir . Masyarakat sekitar ,dahulu melakukan aktivitas menambang pasir di lokasi ini. Aktivitas tersebut menyisakan tebing tebing yang tidak beraturan di sana sini namun justru di situlah daya tariknya. Apalagi di bawahnya ada cekungan cekungan yang menampung air hujan lalu di sekitar cekungan tumbuh berbagai rumput. Pokoknya bagi penggila selfi,tempat ini rekomen so hard,deh.


Lokasi dan Akses
Tebing yang pas dinikmati keindahannya di pagi dan sore hari ini terletak di kampung Koja, kelurahan Cikuya,kecamatan Solear, kabupaten Tangerang . Di google maps bisa dicari dengan nama Tebing Koja Kandang Godzila. Dari jalan Cisoka raya,sih tidak begitu jauh meski lokasinya di dalam perkampungan. Kalau dari Jakarta atau Depok, untuk menuju ke Tebing Koja lebih baik bukan dengan kendaraan umum karena malah akan memakan waktu dan biaya. Misalnya naik kereta api, kita harus naik angkot lagi beberapa kali sepertinya. Lebih baik menggunakan motor atau taxi online saja . Dari Depok,sih jaraknya sekitar 100 km.

Tiket
Tiket masuknya  memang terbilang murah karena memang minim fasilitas,ya. Memasuki wilayah Tebing Koja kita akan dimintai Rp5000 oleh sekelompok orang yang bertugas menjaga. Kemudian kita akan diarahkan untuk parkir di sebuah halaman rumah bagi yang membawa mobil,parkir motor tidak jauh dari parkir mobil namun lebih mendekat ke arah Tebing. Untuk parkir mobil ini tarifnya Rp10.000 dibayar diawal. Dari tempat parkir kita hanya butuh berjalan beberapa puluh meter untuk sampai di depan pintu masuk yang bertarif Rp2000/ orang . Untuk anak-anak tidak dikenakan tarif. Jadi Tebing Koja ini ada 2 tarif. Tarif masuk Rp2000/ orang itu untuk bagian depan saja. Bila ingin masuk ke bagian dalam ,sebuah celah tebing terdapat penjaga,saat itu penjaganya anak kecil yang akan meminta pembayaran Rp5000/orang dan anak kecil tidak dikenakan tarif. Karena ini pengelolaannya belum profesional maka sempat saya dengar serombongan ABG menawar tarif masuk hehe. Untuk bagian tebing yang bertarif Rp5000/orang memang lebih asyik,sih dan sepertinya kalau hujan,di bawahnya akan tergenang air jadi mirip danau. Karena sekarang jarang hujan,maka airnya sedikit dan kotor. Sayangnya banyak sampah bekas snack dan minuman di sekitarnya. Pengunjung ada yang tidak bisa menjaga kebersihan dan penjaga kebersihan pun minim atau bahkan tidak ada. Sayang sekali,ya.

Fasilitas
Untuk pengelolaan yang kurang profesional ,mungkin karena dikelola pribadi atau warga setempat , tarif yang murah,wajar ya fasilitasnya minim. Saat itu saya tidak melihat adanya toilet yang dibangun khusus untuk pengunjung. Mungkin toilet ada di warung warung di sekitar Tebing. Jadi harap dipersiapkan sedemikian bila ingin berkunjung ke tempat wisata yang minim fasilitas, ya. Keamanan juga minim pastinya.

Kalau warung yang menyediakan snack dan minuman ada beberapa di sekitar tebing. Disediakan pula tempat untuk makan berupa meja kursi seadanya. Jadi di sini kita tidak bisa piknik,menggelar tikar,menikmati bekal piknik layaknya di taman,ya. Kami makan bekal kami di dalam mobil hehe.

Tapi meski seperti yang saya ceritakan di atas, Tebing Koja pasti jauh lebih prospek banget kalau dibenahi,dikelola secara baik dan profesional meski konsekuensinya tarif masuknya akan lebih mahal . Semoga kedepannya Tebing Koja bisa dikelola dengan baik sehingga benar benar jadi destinasi wisata alam yang indah,aman,dan nyaman.





Senin, 08 Januari 2018

Explore Tangerang 1 : Telaga Biru Cigaru/ Danau Cisoka

Bismillahirrahmanirrahiim

Telaga Biru Cigaru/ Danau Cisoka



Di kabupaten Tangerang ada tempat wisata alam yang sedang ngehits dan intagramable meski bukan wisata alam alami,melainkan buatan manusia. .Awalnya melihat info ini di Facebook lalu melanjutkan pencarian di google, ternyata memang bagus sekali terlepas dari segala kekurangannya ,ya. Antusias sekali mengunjunginya karena sepertinya reviewable untuk di blog . Saya yakin belum banyak orang tahu meski tinggal di Jadebotabek,Tangerang khususnya. Saya ulas satu satu secara terpisah,ya supaya tidak keliatan panjang jadi orang gak malas baca hehe.

1. Telaga Biru Cigaru /Danau Cisoka
Bagi yang hobi selfi atau aktif di instagram, Telaga Biru Cigaru/ Danau Cisoka sangat cocok untuk mengambil foto. Airnya biru dan jernih diapit tebing tebing tinggi dilengkapi perahu atau getek yang menyediakan properti untuk selfi.

Telaga biru Cigaru atau Danau Cisoka ini merupakan bekas galian pasir jadi bukan merupakan wisata alam yang alami ,ya. Bekas galian pasir membentuk cekungan dengan genangan air berwarna biru. Setidaknya ada 3 cekungan . Saat saya ke sana ada ssatu cekungan yang yang airnya tidak berwarna biru,meliankan hijau ,air dua cekungan lainnya berwarna biru dan jernih. Ikan yang berenang di dasarnya bisa terlihat. Ternyata airnya memang bisa berubah ubah warna,tergantung tingkat keasaman air.





Lokasi dan Akses
Telaga Biru Cigaru/Danau Cisoka terletak di desa Cigaru,kecamatan Cisoka, kabupaten Tangerang,provinsi Banten. Jika menggunakan google maps atau waze, ketik saja Telaga biru Cigaru nanti akan ditunjukan lokasinya.

Akses menuju kesana lebih baik menggunakan kendaraan pribadi,bisa motor atau mobil karena bila menggunakan kereta api kita turun di stasiun Tigaraksa dan untuk menuju lokasi masih terbilang jauh dan berganti beberapa kendaraan umum karena lokasinya memang di desa . Saran saya gunakan mobil, bisa taksi online,ya ,gak harus mobil pribadi atau motor saja, lebih cepat dan memangkas waktu serta biaya. Bila dari Depok atau Jakarta bisa melalui tol Jakarta Tangerang ,keluar di pintu tol Balaraja Barat .Selanjutnya ikuti saja petunjuk peta,ya.

Tiket
Saat ini untuk masuk ke Telaga Biru Cigaru/Danau Cisoka dikenakan tarif Rp15.000 untuk satu mobil jadi tidak dihitung per-orang,ya. Mungkin untuk motor Rp10.000/ motor. Sedangkan untuk parkir dikenakan lagi Rp10.000 untuk satu mobil. Bila ingin menggunakan fasilitas di sana,seperti perahu untuk selfi atau toilet, tentu tidak gratis,ya.






Fasilitas
Meski sedang berbenah namun fasilitas di kawasan wisata yang beroperasi mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 18.00 ini sudah terssedia . Toilet tersedia meski masih terbatas. Saat ke sana masih bersih karena memang belum lama dibuat. Semoga selanjutnya bersih terus ,ya. Pengunjungnya bisa menjaga kebersihan, penjaganya tidak enggak untuk membersihkan karena toilet ini tidak gratis, Rp2000/ orang. Warung – warung minuman dan snack hingga makan besar banyak berjejer di tepi danau. Mereka menyediakan semacam dipan untuk duduk pengunjung. Namun arena untuk menggelar tikar belum saya temui jadi bila membawa bekal,sebaiknya dimakan di mobil hehe.
Tersedia perahu/gethek yang ditarik dengan tali tambang dengan tarif Rp10.000/ orang untuk dewasa,anak anak Rp5000/orang. Di gethek atau perahu ini ,pengunjung dimanjakan untuk selfi dengan background danau biru yang diapit tebing, asalkan bisa ambil angel yang pas, tidak ada yang menyangka kalau Anda sedang di Tangerang hehe. Properti untuk selfi sudah disediakan,seperti topi pantai,bunga, hingga rangkaian bunga berbentuk hati yang saat ini sedang ngehits banget.

Di danau yang berwarna hijau juga disediakan perahu bebek yang biasa untuk anak anak. Danau yang airnya berwarna hijau ini memang tidak seindah yang berwarna biru jadi terlihat lebih sepi.

Sebaiknya mengunjunginya di sore hari sehingga tidak begitu panas karena bila pagi dan siang, terik matahari sangat terasa. Ketika saya ke sana memang pagi ,namun saat itu sedang mendung. Menurut informasi yang saya dapat bila siang hari sangat panas.

Semoga bermanfaat ya,selamat berkunjung,dan tetap jaga kebersihan,ya.








Minggu, 31 Desember 2017

Explore Jonggol Part 3 : Danau Rawa Gede

Bismillahirrahnirrahiim

Danau Rawa Gede ini menjadi bukti lagi bahwa kita gak boleh memandang sebelah mata terhadap kota Jonggol. Kali ini kita meneruskan explore obyek wisata alam di Jonggol. Oh ya bisa juga disebut telaga ya tapi saya memilih danau saja hehe. Setelah sebelumnya kita kemping di curug cipamingkis dan  Curug Ciherang. Saya memang berniat mengkhatamkan explore di kota Jonggol ini karena obyek wisata alamnya memang benar benar cantik,Masya Allah.

Danau selebar 1 ha ini terletak di desa Sirnajaya kecamatan Sukamakmur. Ternyata Sukamakmur ini wilayah kecamatan yang merupakan pemekaran dari kecamatan Jonggol. Namun sudah lekat,ya kalau danau yang indah luar biasa ini identuk dengan Jonggol. Apapun lah,yang pasti danau Rawa Gede layak direncanakan menjadi tujuan tempat wisata alam .Di Sukamakmur ini memang banyak sekali tempat wisata alam yang masih alamai,bahkan curug Cipamingkis dan curug Ciherang pun masuk wilayah Sukamakmur.


masuk dari tanda ini 
Akses
Akses menuju Rawa Gede tentu sama sulitnya dengan akses menuju cipamingkis dan ciherang karena jalurnya memang sama hehe. Untuk kondisi akses ya bisa di baca di link tersebut,ya. Hal yang perlu saya ulang, pastikan kendaraan dalam kondisi bagus,sebaiknya diservis terlebih dahulu sebelum dipakai untuk melintas di kawasan wisata alam di kecamatan Sukamantri ini. Skill driver juga harus mumpuni dan prefer laki laki,deh sepertinya. Kembali ke hal mengenai akses, jadi gerbang masuk danau rawa Gede ini terletak sebelum pertigaan Jonggol di mana kalau ke kanan ke curug Ciherang, ke kiri ke curug Cipamingkis. Tidak jauh sebelum dari pertigaan tersebut terdapat plang petunjuk di sebelah kanan yang berwarna hijau. Plang hijau ya ,bukan yang putih karena ada plang, pertama berwarna putih dengan tulisan merah, kedua plang hijau dengan tulisan putih. Masuklah dari plang berwarna hijau karena arah yang ditunjuk oleh plang putuh tersebut sangat tricky dan seperti untuk mobil biasa tidak bisa. Saya lihat motor pun tidak ada yang melintas. Kami sempat masuk akses tersebut tapi selain sepi juga jalannya gak memungkinkan. Untuk ada pencari rumput jadi saya bisa menggali informasi dari beliau.

jangan lewat petunjuk ini terutama bila
membawa
mobil
Setelah masuk dari plang berwarna hijau, aksesnya ternyata tricky juga karena jalan hanya muat 1 mobil dengan tanjakan dan kelokan yang menggunjang adrenalin. Beberapa kali bemper mobil harus membentur jalanan berbatu,sempit,menanjak ,dan berkelok. Terkadang ada jalan bercabang, lebih baik turun dan sempatkan bertanya ke penduduk sekitar karena tidak ada sinyal sehingga google map atau waze kita mati seperti gak berguna hehe. Jadi kalau wisata alam ke Jonggol ini memang tidak ada sinyal hp,ya.Operator manapun tidak bisa digunakan di sini jadi selesaikan urusan kita melalui handphone sebelum memasuki wilayah Jonggol. Warga sana bila ingin berkomunikasi harus turun ke bawah dulu.


Perjalanan menegangkan tersebut terbayar dengan keindahan yang disuguhkan oleh Danau Rawa Gede . Sebelum memasukinya,kita akan melewati pos penjagaan. Di pos tersebut kita harus membayar biaya masuk. Biaya mobil Rp10.000,00, biaya perorang Rp.10.000,00. Anak kecil seperti Haifa,free. Bila ingin kemping maka dikenakan biaya tambahan yaitu biaya sewa lahan untuk tenda Rp10.000,00 dan biaya perorang Rp7.000,00. Total saat itu 71.000 tapi kami hanya diminta membayar 70.000 . Harga yang sangat murah,ya.
saat sunrise
Fasilitas
Setelah memasuki pos pembayaran,kita akan diarahkan ke tempat parkir. Bila ingin kemping, parkir akan diarahkan ke dekat danau. Memang lahan parkirnya tidak terlalu luas,sih tetapi saat itu yang kemping hanya kami saja karena hari masih siang. Orang orang bila ingin kemping datangnya malam, kata petugas yang dengan ramah memberikan informasi yang kita minta. Benar saja,saat kami tidur tengah malam,datang beberapa orang yang hendak kemping.

Lokasi kemping ground ada di pinggir sekitar danau. Kita bisa memilih sendiri selama masih kosong. Saat itu kami memilih dekat pohon pinus, namun jadi terlalu jauh dengan MCK hehe. Soalnya saat itu datang siang dan panas jadi kami milih yang jauh dari keramaian dan agak adem. Kalau punya anak kecil,lebih baik memilih yang dekat MCK. MCK ini disediakan oleh warung warung di sekitar danau. MCK yang manusiawi letaknya di dekat parkiran atau warung yang dekat pintu keluar parkiran (paling ujung ) di warug satu lagi tidak ada WC jadi hanya bisa untuk BAK . Lokasinya pun menyatu dengan dapur dan tutupnya hanya kain spanduk yang kotor,kucel,dan bau . Jadi kayak toilet pribadi tapi boleh dipakai pengunjung.

Oh iya, pengelola tidak menyediakan sewa tenda ya jadi kita harus membawa sendiri atau menyewa di kota tempat kita tinggal.

Bila hanya ingin menikmati keindahkan danau, kita bisa berkeliling dengan jalan kaki atau dengan perahu motor. Kami juga menyewa perahu ketika menuju lokasi kemping karena barang kami banyak sekali. Menurut yang kami dengar,tarif naik perahu 50.000 tapi kami saat itu saya dikenakan 20.000 karena hanya menyeberang saja,tidak berkeliling.

perahu untuk keliling danau
Di pinggiran danau, ditanami bunga bunga yang saat itu sedang bermekaran. Saat kami di sana, air mancur di pinggir danau sedang dibangun, taman-taman baru sedang dibangun. Bila tamannya sudah jadi,pasti akan menambah keindahan danau. Danau luas bersih,dikelilingi taman bunga dan hutan,indah sekali pastinya. Terdapat taman berbentuk hati. Bila ingin berfoto di dalamnya dikenakan tarif 2000/ orang.

Add caption
Terdapat curug kecil di dekat danau. Menurutku itu terusan dari curug Cidulang yang bisa diakses melalui hutan di dekat danau. Tapi akses ke curug Cidulang melalui hutan rimbun ini begitu mengerikan, menanjak dan jalannya hanya setapak kecil,kanan kita tanaman rapat sekali jadi kami turun lagi ketika sudah menanjak hehe. Curug kecil ini sejak dan lumayan indah. Di bawahnya dibangun semacam kolam yang bila kita ingin mandi atau berenang dikenakan tarif 2000/orang.

Curug
Di sekitar danau Rawa Gede terdapat 2 curug yaitu curug Cibeureum dan Curug Cidulang. Curug Cidulang adalah curug yang gagal kami sambangi saat itu karena aksesnya yang seram. Menurut informasi yang saya dapat, Curug Cidulang bisa di akses melalu hutan yang di atas danau. Kami mencoba akses tersebut dan memutuskan untuk membatalkan karena kondisi jalannya yang hanya setapak kecil dengan kanan kiri rumput yang rapat. Akhirnya kami melalui jalur biasa namun tetap gagal ke curug Cidulang karena terlalu jauh. Kami memilih ke Curug Cibeureum yang lokasinya selain jauh juga aksesnya yang bikin nafas tersengal karena menanjak tapi jalurnya jalur biasa atau jalan utama yang dilewati warga jadi tidak horor,ya. Sebenarnya bisa membawa kendaraan meski harus berhenti beberapa ratus meter dari curug namun kalau mobil APV sayang bamper mobilnya karena kondisi jalan berbatu, menanjak ,dan berkelok jadi lebih baik jalan kaki. Tapi kalau membawa motor,bisa kok meski sama saja harus berhenti dan parkir beberapa ratus meter dari curug dan dilanjutkan dengan jalan kaki.

Curug ini sangat tinggi dan relatif masih sepi. Debit air kecil sekali bila tidak sering hujan. Saat kami ke sana debit air tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil hehe. Menurut informasi dari tukang parkir memang lebih besar curug Cidulang. Insya Allah next trip,ya . Di kecamatan Sukamakmur memang banyak sekali curug.

semoga bermanfaat.