Senin, 11 Maret 2013

Outing Ke Pulau Tidung

                    

Bismillahirrahmaanirrahiim
Hiiii,kali ini akan menulis tentang perjalanan ke Pula Tidung yang merupakan salah satu pulai di Kepulauan Seribu. Bukan salah satu pulau ding tetapi salah dua hehe. Ya,karena ada 2 pulau Tidung yaitu Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Nha tempat mendarat kita dari kapal itu Pulau Tidung Besar. Mulai saja yuk dari awal sampai akhir. Oiya, kami enggak pake travel agent ya. Kami mandiri. Lebih enak lah menurutku. Dan kami menyeberang lewat Muara Angke. Selain Muara Angke,kita juga bisa menyeberang lewat Pantai Marina ,Ancol dengan kapal yang lebih bagus tetapi aku kurang tahu berapa tarif per-orangnya.



Kami dari Depok berangkat setelah subuh jreng. Rencananya,sih pukul 04.00 berangkat tetapi ayah pulang kerja beberapa menit sebelum subuh. Padahal sebelumnya sudah diwanti-wanti cepet pulang. Katanya pekerjaannya belum selesai. Padahal mah kerjaan dia mana bisa selesai? :P Arus lalu lintas di jalan tol lancar jaya karena hari Sabtu. Kami lewat tol Cijago menuju tol Wiyoto Wiyono sampai akhirnya turun di Tol...(lupa hihihi) trus mencari arah ke muara angke. Napak tilas waktu kita ke Muara Angke minggu lalu tetapi rada bingung dan akhirnya malah naik tol lagi,turun lagi dan alhamdulillah sampai juga,deh di dekat Muara Angke. Beberapa ratus meter menjelang Muara Angke macet karena banyaknya kendaraan yang hendak ke Muara Angke (weekend gitu,lho ). Akhirnya sampai juga di tempat parkir.  Di tempat parkir, petugas parkir akan menanyai kita, ke Pulau? (artinya nginep) kalau ke pulau dan nginep maka tukang parkir akan mengarahkan di mana seharusnya kita parkir . Jangan lupa meminta tanda parkir penitipan kendaraan nginep. Saya sudah minta tetapi katanya tidak ada. Duh was was saya, masa iya gak ada tanda parkir. Tapi karena kupikir semua gak dapat tanda parkir jadi nyantai saja. Kalaupun ada pencuri pasti enggak milih mobil kita,banyak yang jauuuh lebih bagus :P Nha ketika pulang,kami diminta untuk menyerahkan tanda parkir. Saya bilang apa adanya bahwa kami enggak dapat tanda parkir. Tukang parkirnya curiga ,jangan-jangan ini bukan mobil kita. Beugh, masa mau nyuri mobil aja sekeluarga :P oiya ,saya gak tau bayar parkir resmi berapa tetapi saat itu saya dimintai uang 50rb untuk parkir nginep.
(Salah satu sisi Muara Angke yang kumuh dan ruwet plus bau tapi di sanalah makanan kita yang berupa hewan laut diturunkan dari kapal nelayan dan mulai didistribusikan)

Setelah parkir kita menuju ke semacam terminal kapal gitu lalu membeli tiket naik kapal di depan pintu masuk yang berjubel dan becek banget. Harga tiketnya 35rb untuk dewasa . Ternyata Danu harusnya gratis tetapi saat berangkat aku bayar juga. Hal ini aku ketahui ketika membeli tiket untuk menyeberang pulang. Kalau Haifa free. Setelah tiket didapat,kita harus mengikuti seseorang menuju sebuah kapal. Biyuh,jalannya cepet banget mana bawaan berat pula. Ngos-ngosan jadinya. Sampai di dalam kapal sudah penuh orang karena kita kesiangan. Alhamdulillah dapat tempat dekat jendela jadi enggak begitu sumpek.  Karena ini kapal besar maka goyangan akibat air laut tidak begitu terasa tetapi tetap saja ada yang mabuk. Kalau memang mabukan mendingan minum antimo. Ketika berangkat, kami minum antimo,untuk jaga-jaga ,kali aja mabok apalagi kakak yng tukang mabok kalo naik kendaraan. Kalau aku, Haifa, dan Danu,sih enggak mabukan tapi daripada nanti kliyengan ikut minum juga . Gyaa antimo bikin ngantuk, ...zzZZzz.... Ketika menyeberang pulang,  enggak minum antimo dan baik-baik saja. Kakak aja yang mual soalnya disuruh minum gak mau.

Penuh sesak di dalam kapal

Dua wanita itu menambah sesak karena merokok

Nha ini bebas sesak tetapi hati-hati jath dan badan jadi gosong hehe

Setelah di tengah laut selama 3 jam sampai juga kami di Pulau Tidung. O iya selama di perjalanan laut kita melihat perahu kecil yang hanya berisi 1-2 orang (langsung ,deh horor,gimana kalau kebalik bla bla), melihat pulai-pulau (gak salah ,deh Indonesia dinamain negara kepulauan), melihat tempat penngeboran minyak bumi oleh pertamina (entah apalah pokokny ada tanda pertamina :P ),lalu melihat kapal cargo yang banyak dan gede-gedee banget. Cargo tersebut ditarik oleh kapal yang besar juga dan tampak rumit. Trus..kalau liat ke jendela luar terbayang kalau  jatuh dan tenggelam *naudzubillah min dzalik*, horor ih. Mendingan enggak usah melihat ke luar kalau memang suka berpikir horor begini hehe. Setelah mendarat,kita bisa menuju ke kawasan pemukiman penduduk untuk mencari tempat nginep atau homestay. Tetapi kalau bisa,mendingan sebelum ke Tidung booking dulu, takutnya kehabisan. Kalau capek jalan ke kawasan pemukiman ada bentor (becak motor). Satu bentor bisa untuk 3 orang, 2 di depan dan satu di belakang (seperti mbonceng motor).*Lupa motret bentor hehe*  Saat itu kami sekalian nanya, di mana tempat nginep? Aku bilang, kami baru mau mencari. Tukang bentor mengantarkan ke homestay yang dia kenal. Lokasinya agak di belakang. Awalnya kami kurang sreg soalnya jauh . Tetapi gpp,deh. Budget kami 400rb untuk membayar penginapan tetapi ternyata cuman 200rb dan boleh ditawar tetapi aku enggak nawar. Sudah senang cuman dapat harga segitu hehe.  Pemiliknya ramah. Selain punya di kawasan pemukiman ,beliu juga mempunyai homestay di kawan pantai dan harganya sama! Nama beliau Bapak Sahrudin.
Kata Ayah, ini namanya Cargo, untuk menempatkan barang-barang yang diekspor. Cargo ini diatrik dengan kapal

Banyak pulau ditemui selama perjalanan menyeberang

Kami menginap di sini, 200rb saja satu rumah. Ada ac, kipas angin, Tv, kulkas, aqua segalon, dan air panas setermos. Kalau mau ketring, Pak Sahrudin juga bisa memesankan. 40ribu/orang untuk 3 kali makan.

Usai dhuhur kami hendak menuju pantai. Karena enggak tau kalau jarak ke pantai sekitar 1,5km maka kami memilih jalan kaki. Beugh kehausan, siang bolong yang teriik banget. Akhirnya beli minum sambil menggali informasi. Ternyata, mendingan sewa sepeda. Karena sudah jauh dari home stay temat kami tinggal, akhirnya nyewa di tempat terdekat (di homestay juga disediain,bayar juga sih). Sewa sepeda itu 15.000/sepeda dan bisa disewa sampai kita pulang. Kalau motor, 70.000/motor sampai kita pulang juga. OO iya,aku mengamati, penduduk di sana sejahtera. Bangunan rumahnya permanen. Mungkin karena masing-masing rumah punya usaha yaitu homestay, toko, warung makan, jualan oleh-oleh,dll.

                                     Sewa sepeda hanya 15.000 sampai kita pulang atau selama kita di sana
Supaya kaki Haifa tidak masuk ke jari-jari maka kami ikat dengan tali tas kamera hihihi

Sampai pantai, puanaas poll. Tapi nekad aja menyusuri jembatan cinta menuju Pulau Tidung kecil. Sebelnya, aku enggak menyetting kameraku di bagian exposure maka semua foto yang kuambil di siang itu over exposure,hwaaa....! Air lautnya jerniiih banget,beda sekali dengan air laut di Muara Angke yang menghitam dan berminyak. Saking jernihnya, ikan-ikan kecil sampai terlihat. Wuih, pengen nangkep aja jadinya.  Katanya kalau sepasang kekasih (mungkin suami istri) bergandengan di jembatan cinta  maka cinta mereka akan abadi. Percaya? Saya,sih enggak percaya sama sekali hehe maka saya gak gandengan. Gandengan ma Haifa aja wkwkwk.  Banyak sekali pasangan yang mungkin memercayai mitos tersebut maka pada gendengan,deh.

Disewakan. Ini ni daya tarik di pantai. Selain itu ada snorkling dan menyelam. Sewa alat snorkling 35rb sampai kita pulang. Kalau menyelam rada mahal

Jembatan cinta menghubungkan Pulau Tidung BEsar dan Pulau Tidung Kecil



Sore harinya, di salah satu ujung jembatan cinta dijadinya orang untuk melompat (apa ya namanya). Antri,lho untuk lompat ke laut aja.  Rame banget yang motret, aku dapat satu aja orang yang melompat. Males uwel-uwelan. Lanjut menyusuri jembatan cinta, Haifa dan Danu sempat mandi di bawah jembatan,maksudnya nyebur ke laut hehe.  Sesampai di Pulau Tidung Kecil, aku menemukan sesuatu yang membuatku senang. Apa,yaa? Ketemu mlanding, ceplukan,beranjangan, dan tumbuhan lainnya yang dahulu ada di gunung dekat rumah orang tuaku di kampung. Ini ,lho tumbuhan-tumbuhan yang menurutku sudah sangat langka tapi bisa aku temui di abad 21 ini hehe. Maaf ya untuk orang kota,mungkin tumbuhan di bawah ini tidak pernah kalian lihat hehe. Enaknya jadi wong ndeso,kan gini,banyak tumbuhan yang pernah dilihat.
Pohon Bakau

Jalan setapak di Pulau Tidung Kecil. Kanan kirinya banyak tanaman yang sudah jarang ditemui

Ini beranjangan atau dranjangan. Tanaman sudah jarang ditemui. Rasanya manis kalau sudah matang. Kalau matang, warna kulitnya kekuningan


Beranjangan masih kuncup

Bunga Mlanding atau petai cina tapi yang kecil ,bukan jenis lamtoro 


Pohon Pacar untuk mewarnai kuku

Pohon Suweg (kurang jelas,sih)

                                                             (Ceplukan)

                                (Ceplukan di kanan kiri jalan setapak sedang berbuah lebat)



                                         (Ini sudah matang. Haifa sangat suka)


                                               (Pohon Minyak Kayu Putih,kan,ya?)
Rumput yang sudah jarang ditemui

BUnga Waru. Ada di jalan menuju pantai

Sore menjelang, jembatan cinta kian ramai. Akhirnya kami sewa sofa boat. Untuk dewasa dikenai tarif 35.000/orang, untuk Haifa free, untuk Danu 25rb. Haifa senang sekali naik sofa boat. Apalagi pas air laut terciprat ke muka. Haifa dan Danu maunya teruuus di pantai itu.
Sayangnya ,malam hari kita enggak keluar karena ayah ngantuk. Kalau ngajak Haifa dipastikan Haifa ngantuk juga di sepeda. Ya sudahlah,di dalam rumah saja nonton tipi. Saya,sih tidur soalnya netty yang dibawa enggak bisa dibuka,diutak atik Haifa.

                                                      (Loncat dari jembatan)

                                                          (Banana Boat)

                                                              (Sofa Boat)




Airnya Jernih, ikan-ikan terlihat.
                                          (Haifa senang sekali setelah naik sofa boat)


                                           (Danu juga senang bisa mengapung)  


Pagi usai Shubuh kita bersepada menuju pantai. Aih hujan rintik-rintik pun. Tetapi nekad saja hehe.  Pas parkir sepeda, tukang warung mendekati,ngajak mampir ke warungnya. Ya sudah,kita pesan teh anget dan gorengan sambil melihat-lihat kerajinan tangan yang dipajang. Unik-unik,ya. Haifa membeli kacamata, Danu membeli gelang,Kakak membeli bros dan saya membeli gelang. Ayah beli stiker wkwkwk.  Hujan reda kita ke pantai dan cebar cebur plus naik banana boat. Harga sewanya sama dengan sofa boat tetapi  kami nyewa di tempat yang berbeda dan Danu hanya kena charge 20.000. Haifa tetap free. Haifa berani,lho naik banana boat. Karena kami naik 2 kali (enak,sih) dapat diskon 10.000/orang. Untuk yang kedua, kami minta dibalikin 2 kali jadi pas ngebut langsung dibalik itu banana boatnya. Masya Allah,begitu ya rasanya kecebur. Hoek, minum air asin banyak banget. Dan...capek . Tapi asli seru bangeeeet,nget ngeet. Sayangnya mahal dan cuman sebentar hehe. Pas kali kedua naik, ayah dan Haifa gak ikut karena kami minta dibalik itu si banana. Gak tega lah kalo lihat Haifa diceburin ke laut. Ayah mengajak Haifa main tetapi pas kami naik,Haifa melihat dan terjadilah tangis yang memecahkan suasana pantai. Duh gak tega banget aku ninggalin Haifa tapi sudah lepas landas. Haifa nangis terus sampai kami selesai berbanana boat. Setelah itu saya dan Haifa yang tampak bersedih berpelukan. Untuk menghiburnya, kami sewa perahu bebek. Gyaa,,,masih megap-megap sediah dia, teringat betapa pedihnya ditinggalin emaknya hehe.  Nanti ya,Fa kalau sudah besar banana boatnya dibalik-balik :D
Sayangnya kami enggak bersnorkling ria karena ada Haifa. Haifa pasti seneng-seneng aja tapiii...uangnya sudah menipis dan di sana gak ada ATM. Sudah lewat budget juga ding hihihi. Insya Allah next time yaa

                                                             (Mendung)
                              (Pagi buta menuju pantai dan cebar cebur lalu naik banana boat)

Pukul 8 lebih kami cabut dari pantai karena mengejar kapal menyebrang pukul 10. Setelah mandi dan beres-beres, beli makan.  Menurutku,harga makanan di sana relatif sama dengan di Jakarta. Iyalah,kan masih satu propinsi. Tapi lebih mahal di banding di Depok hehe. Niatnya mau beli oleh-oleh krupuk dan kripik sukun tapi karena info dari yang dagang kripik,kapal akan berangkat 5 menit lagi, kami jd pecah konsentrasi,buru-buru dan cuman beli kripik sukun 10 bungkus. Sebagian besar habis dicemilin di kapal :P Oiya tiket pulang,kok lebih murah ya? Hanya 33.000 ,danu dan haifa free. Sampai di kapal ,ealah masih kosong. Artinya nunggu lama untuk berangkat. Tau gitu belanja oleh-oleh dulu.  Akhirnya..kami kembali ke Muara Angke. Sampai di muara Angke pukul 13.30. Karena haus buangeeet maka minum es teh manis dulu sambil makan otak-otak ,lanjut sholat. Di mobil,kita bercerita tentang serunya bermain di pantai.Sampai hari ini,Haifa masih bilang,”Adik mau naik kapal,ayah.”  Dan yang terjadi kemudian adalah..dia cebar cebur di kamar mandi.

Mewek pas pulang karena ingin naik banana boat lagi

Begini kalao nyebrang lewat kapal di muara angke, lesehan


Oleh-oleh


Dalam perjalanan pulang,Haifa tiduuur terus. Bangun ketika sudah sampai di muara Angke. Capek,ya?

Akhirnya sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya , Merdeka!

Jumat, 08 Maret 2013

Pusat Primata Schumutzer, Riwayatmu Kini




Terakhir ke Pusat Primata Schumutzer (PPS) beberapa minggu yang lalu. Semua tampak berubah bahkan patung gorila di pintu masuk waving gallery. PPS menjadi salah satu alternatif tempat wisata edukasi yang murah dan menyenangkan meskipun banyak 'warga biasa' yang tidak mengetahui keberadaan PPS ini. Disebut murah karena kita cukup mengeluarkan uang 6000/orang untuk mendapatkan tiket masuk,kecuali Sabtu dan Minggu. Untuk Sabtu dan Minggu ,harga tiket masuk Rp7500/orang. PPS ini terletak di dalam kawasan KBR (Kebun Binatang Ragunan) jadi kita harus membeli tiket untuk masuk KBR terlebih dahulu sebelum masuk ke PPS. Harga tiket KE KBR lebih murah yaitu hanya Rp5000/orang.Dengan harga tiket semurah itu KBR selalu diserbu masyarakat ketika hari libur. Namun, dari pengamatanku pengunjung yang 'menyerbu' PPS tidak begitu siginifikan dibanding dengan jumlah pengunjung KRB. Hal ini mungkin disebabkan pihak pengelola kurang melalukan sosialisasi tentang keberadaan PPS. Hanya ada petunjuk arah di KRB menuju PPS. Tidak ada selebaran atau brosur yang bertujuan mengenalkan PPS ke masyarakat.

Atas dana dan amanat dari  Mrs.Antoinette Schmutzer-versteegh yang merupakan seorang pecinta binatang dan pelukis yang dermanan, The Gibbon Foundation mendirikan PPS ini. Dahulu, pengelolaannya terpisah dari KBR tetapi menurut info yang saya baca, PPS diserahkan pengelolaannya kepada KBR di tahun 2006 atau 4 tahun setelah pendiriannya. Menurutku, sejak saat itulah semua berubah (ke arah yang lebih buruk). Entah karena pemerintah enggak ada dana pengelolaan ,entah memang gak peduli. Sebelum membahas kondisi riil PPS ,alinea di bawah akan membahas seperti apa,sih PPS itu.

(inilah yang mendani berdirinya PPS, foto ini aku ambil dari virtualtourist.com karena di folder terbaru, gak ada foto ini)

Jadi ,PPS itu sebanarnya sungguh indah,luas, dan ya..kita akan merasa seprti di hutan yang dikelilingin berbagai jenis primata . (tenang aja mereka dikandangin,kok). Setelah membeli tiket,kita diperbolehkan masuk. Sebelum menginjak halaman PPS,kita diingatkan oleh petugas untuk tidak membawa makanan, Tas-tas besar harus dititipkan di tempat penitipan. Tetapi kalau air minum dalam kemasan yang sayang dibuang (misalnya tuperware *bukan ngiklan) boleh dibawa karena kecil kemungkinan tuperware dibuang hehe. Kalau air minum kemasan sekali pakai jelas tidak boleh karena akan mengotori PPS. Tidak membawa air minum pun harusnya tidak perlu membuat kita khawatir karena di dalam PPS kita dapat meminum air dari kran khusus untuk minum. Tetapi, melihat kondisi kran air minum sekarang yang banyak daun kering berserakan begitu,saya jadi ragu meminumnya padahal dahulu, nyantai saja untuk meminumnya. Nha selanjutnya kita bisa menuju 'hutan belantara' melalu waving gallery atau lewat jalan di sisi kanan-kiri waving gallery tersebut. Jadi waving gallery itu seperti terowongan yang beratap. Dari terowongan inilah,kita dapat menyaksikan berbagai primata penghuni PPS dari atas. Menyaksikan dari bawah melalu jalan masuk di kanan kiri waving gallery juga bisa.

Siapa saja,sih penghuni PPS ini? ada lutung Jawa, ada Komu,ada Kumbo, Monyet jepang, Boti dan banyak lagi. Sebelum terakhir ke sana, saya masih melihat kondisi kandang monyet Jepang itu bersih tetapi terakhir ke sana, tempatnya sangat kumuh, Monyet Jepan pun terlihat tidak ceria lagi. Menurut yang saya baca,monyet jepang termasuk hewan yang cinta kebersihan bahkan ia mencuci makanannya terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Mungkin ia sedih melihat kandangnya yang kumuh seperti itu.
                                                    (Monyet Jepang yang tampak merana)

(aku lupa ini monyet apa,tapi dia tampak merenungi nasib,ya. Mungkin sedih,tempatnya tidak se-asyik dahulu kala)

                                                             (Boti yang tak kalah (tampak) sedihnya)


Fasilitas bermain di PPS pun kacau balau. Rumah pohon, jembatan tambang, dan lain-lainnya tampak lapuk dan tentu tidak berfungsi. Patung-patung primata banyak yang gumpil.  Jadi ketika kita mengajak anak-anak ke sana, cukup muter-muter saja, enggak bisa berhenti untuk bermain-main seperti dulu. 6-7 tahun lalu saya membawa murid-murid saya kesini dan masih masih bisa bermain dengan cara bergelantungan di sebuah pohon-pohonan. Tanahnya agak lapang. Tapi sekarang, pohon-pohonan itu tidak berfungsi. Banyak tanaman liar tumbuh menutupinya. Overall ,kondisnya PPS kini sangat memprihatinkan.Saya gak sempat memotret kondisi fasilitas tersebut .  O iya,goa oranghutan yang dulu merupakan tempat favorit, sekarang jadi aja muda mudi berpacaran. Merusak pemandangan banget,deh.



O iya, di samping waving gallery ada gedung yang disebut Pusat Pendidikan primata. Di dalam gedung tersebut dapat dilihat informasi mengenai ke-primataan. Lalu ada beberapa kesan dari orang terkenal yang pernah berkunjung ke PPS. Pesan tersebut ditulis dalam sebuah kertas lalu kertas tersebut dibingkai. Ada Marshanda, Gugun Gindrong, Irfan Hakim, dll.












Sayang sekali,ya PPS yang merupakan pusat primata terbesar di dunia itu tidak terawat  dengan maksimal padahal PPS merupakan tempat wisata edukasi yang murah meriah, terjangkau semua lapisan masyarakat. Ya,untuk urusan pendidikan,pemerintah kita memang kurang serius. Entah memang dananya minim atau memang disunat sana sini.

Penjual Lepet Bertangan Cacat






(Kakek yang tadi kutemui di Pasar Kemiri. Lengan kanannya cacat)
Selalu saja menemukan hal-hal yang membuat saya tuh..emm...apa  ya? Ya pokoknya selalu harus bersyukur, harus eling sama yang diatas.  Ya something like that lah. Tadi,pulang jemput Danu aku ke pasar Kemiri untuk mencari stroberi.Ternyata kosong,datangnya masih nanti sore. Lalu lanjut belanja lengkuas,dkk. Usai belanja , mataku berkeliling mencari-cari apalagi yang perlu dibeli mumpung masih di pasar. Dan tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah lengan baju koko hitam (atau biru dongker) yang tampak tak ada tangannya karena lengan tersebut terjuntai tetapi ada pisau terapit di sana. Mataku reflek melihat ke bagian atas untuk melihat siapa pemakai baju koko tersebut. Masya Allah,ternyata seorang kakek tua. Rupanya tangan kanan kakek tersebut cacat (atau buntung). Aku mengamati dagangannya.Oh,dia jual lepet sama ketupat. “Ayo mas kita ke bapak tua itu, kita beli dagangannya. Dia cacat,”kataku sambil menggandeng Haifa. Danu yang sudah terbiasa dengan hal seperti itu (bertemu pedagang tua lalu aku ajak belanja di tempatnya)mengikuti. Sekarang, sudah jadi kebiasaan buat Danu,kalau ada pemulung atau pedagang tua selalu memintaku untuk membeli daganganya atau memberinya sesuatu.
Aku membeli segabung lepet. Kakek berpeci hitam itu bilang harganya 7000. Aku lihat dagangannya masih ada beberapa. Biasanya ,ketupat dan lepet habis pagi-pagi tapi kurang tahu kalau di pasar kemiri mengingat itu pasar besar di mana ayam samapi malam itu masih ada.
Kakek tua itu mengingatkanku pada Kakek tua penjual kacang sangrai di Kemayoran. Kakek itu kutemui ketika pulang jemput Danu les. Kalau keluar rumah,kami selalu mampir ke lapaknya di pinggir jembatan Sukamulya. Juga mengingatkanku kakek tua oenjual bayam dan buah-buahan di Pasar Depok Lama yang selalu kutemui bila ke sana. Atau kakek penjual tape,penjual ulegan,dan penjual lain-lainnya. Ibuku juga sudah sepuh dan ngeyel tetep jualan padahal sudah kuminta berhenti,biar aku saja yang menanggung hidupnya. Tapi diam-diam balik ke Jakarta lagi dan berjualan lagi.

(
(Ini kakek penjual kacang yang di Kemayoran)

Aku senang bertemu dengan mereka-mereka itu.Atau anak ABG yang memikul bertumpuk tumpuk ulegan dan lumpang dari batu. Mereka –mereka itu selalu mengingatku tentang banyak hal. Syukur, kerja keras, qona’ah. Dan seterusnya.



Kamis, 07 Maret 2013

Wisata Edukasi Part 2 : Museum Transportasi

Bismillahirrahmaanirrahiim

Seperti saya bilang di tulisan sebelumnya,bahwa TMII itu gudangnya tempat wisata ilmiah atau wisata edukasi. Nha tempat edukatif selanjutnya adalah mueseum transportasi. Karena museum ini letaknya di dalam kawasan TMII maka kita harus masuk dulu ke TMII :P. Tiket masuk TMII hanya 9rb/orang. Lalu ikuti petunjuk menuju museum tranportasi. Ada halaman parkir yang cukup luas di damping museum jadi parkir saja kendaraan kita di situ. Lalu berjalanlah menuju loket. Kita cukup membayar 2000/orang untuk masuk ke museum yang banyak sekali terdapat kereta tua ini. O iya, di bagian halaman depan museum ada sebuah pesawat Garuda. Kita bisa menaikinya dengan tiket (kalau tidak salah ingat) 3000 saja.

Teruuuss, kita susuri aja jalan masuk ke ruang pameran bagian luar yang berisi bermacam-macam kereta api yang merupakan kereta api generasi pertama keluaran PT. KAI (dulu PJTKI kayaknya ya). Ada rel KA-nya. Lalu ada bis zaman dulu. Mirip bis di film Dono Kasino Indro gitu. Ada peti kemas. Ada....wuih buanyak. Selain pameran di luar ruangan seperti itu ada pameran bagian dalamnya. Nha di dalam itu terdapat berbagai informasi mengenai berbagai perkembangan alat tranportasi di Indonesia,baik darat, laut,dan udara. Abanyak foto-foto alat transportasi jadul yang membuat kita merasa sangat beruntung dengan alat tranportasi sekarang yang serba cepat dan banyak pilihan. Sayangnya foto-foto ke sana hanya ada yang di BB, entahlah yang di kamera itu di folder mana.






Dan tempat paling menyenangkan bagi anak-anak di museum tranportasi ini adalah Taman Lalu Lintas! Di Taman ini kita bisa menyewa becak atau sepeda dengan harga sewa 3000-4000 untuk waktu penggunaan 15 menit. Becak atau sepeda tersebut dipakai di sekitar taman saja, kita bisa berputar-putar di situ sambil belajar arti dari rambu-rambu lalu lintas. Bagi kita orang dewasa,memang gak gitu berarti tapi bagi anak-anak ,tempat itu bisa jadi tempat belajar yang menyenangkan. Terutama belajar menganai arti tanda rambu lalu lintas.




Ya overall, cukup informatiflah museum ini mengingat tiket masuknya hanya 2000 saja. Dan dari pengamatanku, museum ini banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Meskipun fotonya terbatas dan tulisannya juga singkat banget (buru-buru mau ke pasar :P ) ,semoga cukup informatif yaaa. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Minggu, 03 Maret 2013

TMII ,Gudangnya Tempat Wisata Edukasi Part 1

Bismillahirrahmaanirrahiim
Hai, kali ini saya akan menulis tentang destinasi (kata destinasi lagi ngetop ni jadi aku pake ya hehehe) wisata ilmiah atau wisata edukasi. Menurutku, Jakarta itu gudangnya tempat belajar. Mau belajar apa saja,ada tempatnya. Maka, agak membuatku bingung kalau ada orang jakarta yang bodoh hehe. Soalnya full fasilitas. Jadi,kalau sampai 'bodoh' ya ibaratnya ayam mati di lumbung padi.

Nha ,salah satu  destinasi wisata ilmiah di Jakarta itu ada di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Di TMII terdapat berbagai museum, taman, dan wisata air serta tak lupa anjungan seluruh propinsi di Indonesia (pas banget,deh buat belajar IPS hehe) Menurutku,TMII itu tempat belajar berbagai hal yang menyenangkan dan terjangkau . . satu persatu saya akan urai, wisata ilmiah apa saja yang di TMII.

MUSEUM IPTEK


Ini tempat yang menyenangkan dan ilmiah banget. Pertama-tama kita harus masuk ke kawasan TMII dulu. Tiketnya terhitung murah, 9000/kepala (dan anggita tubuh lainnya. Jadi bukan kepala bayar 9rb, tangan bayar sekian,kaki bayar sekian :p ). Lalu arahkan kendaraan kita ke lokasi museum Iptek. Nanti ada petunjuknya,kok jadi jangan takut nyasar,ya. Begitu sampai di depan museum iptek, turun dari kendaraan (ya iyalah)trus ke pintu masuk. Di dekat pintu masuk ada tempat membeli tiket. Kalau tidak salah ingat, harga tiketnya itu 15rb/orang. Begitu masuk, kita akan disambut oleh ilmuwan-ilmuwan keren tapi patungnya saja  hehe(orangnya sudah meninggal :p ) Di dekat patung kita bisa memainkan angklung. Truusss...Ubek-ubek aja ,deh seluruh lokasi museum iptek yang terdiri dari 2 lantai. Kita akan menemukan biola yang enggak ada senarnya (dawai ), kita akan menemukan alat peraga pita suara, sampai rumah simulasi gempa. Lengkap,deh. Anakanak pasti akan suka. Sayangnya ,ada beberapa alat yang rusak tetapi terkesan didiamkan saja.


Patung-patung para ilmuwan di dekat pintu masuk. Langsung,deh tersembur (halah) aura kecerdasan hehe


Coba ya pelajaran fisika di sekolah itu menggunakan alat peraga seperti itu,dijamin anak-anak akan suka dan pelajaran fisika bukan lagi hal yang mengerikan.Tentu dengan didukung guru yang enggak killer,enggak galak,dan enggak mengerikan (wew,jadi ingat guru fisika-ku dulu, Galak, judes,dsb dsb jadi kalau ada pelajaran fisika, kita ketakutan.). Coba ya uang-uang yang di korupsi itu dibelikan alat-alat peraga seperti itu dijamin anak-anak Indoinesia akan pinter. Aku senang mengajak rakyatku jalan-jalan walaupun dengan keuangan terbatas karena aku yakin banget anak-anak itu lebih senang belajar dengan mempraktekan, dengan melihat, dengan mengalaminya sendiri. Maka ketika jadi guru, aku lebih sering mengajak anak-anaku keluar kelas. Ke museum,ke taman,dst. Hasilnya,aku jadi guru yang disenangi anak-anak meskipun aku itu guru yang galak hehe.

Rambut kita akan berdiri kalo memainkan alat peraga ini

Haifa sedang memainkan alat peraga pita suara

Baterai dari buah tapi seingatku alat ini rusak

Ada pertunjukan robot

Alat peraga tentang gelombang


Banyak banget alat peraga lainnya. Karena saya hendak masak maka gak sempet upload semuanya. Agar lebih puas,datang yuk ke museum IPTEK di TMII. O iya, ada pemutaran film ilmiah tentang fisika,lho/ Sampai jumpa di tulisan berikutnya yaa. Wassalamu'alaikum