Member Of

KEB

Jumat, 27 Januari 2017

Sumur Raumah, kecerdasan Utsman Bin Affan

Bismillahirrahmaniraahiim

gambardari http://www.rumahallah.com/
Pada kisah Sumur Raumah yang terkenal ,mungkin kebanyakan orang tahu bahwa stressing point pada kisah tersebut adalah tentang kedermawanan Ustman bin Affan. Tidak salah memang kalau kisah tersebut menggambarkan kedermawanan Ustman .Namun Bagi saya ada point lain yang juga penting untuk kita ambil pelajaran yaitu kecerdasan dan kepiawaian Ustman dalam bernegosiasi. Kepiawaian seorang Ustman mampu membuat seorang Yahudi pemilik sumur Raumah  'menyerah' dan akhirnya  menjual  sumur yang jadi satu satunya sumber air di Madinah saat itu.

Paceklik, kondisi yang tidak diinginkan oleh siapa saja. Bahan makanan susah, air apalagi. Nabi Muhammad SAW dan kaum muhajirin pernah mengalami masa paceklik di kota Madinah. Sangat berat saya bayangkan,,sudah di negeri Arab yang panas eh paceklik. Kaum Muhajirin tentu berat beradaptasi dengan kondisi kekurangan air seperti itu karena saat di Mekkah mereka dimanjakan dengan kucuran air zam zam yang tidak pernah kering. Sedangkan sekarang mereka harus membeli dan antri untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,seperti mandi, berwudhu hingga memasak. Rasulullah SAW tentu tidak tinggal diam dengan kondisi kaumnya yang kesusahan seperti itu. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW Bersabda ,"Wahai sahabatku ,siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk membebaskan sumur itu (Raumah-red) lalu menyumbangkannya untuk umat maka akan mendapat balasan surga-Nya Allah ta'alaa." Sahabat Utsman bin Affan yang kaya dan derwaman langsung mengambil tawaran tersebut tanpa reserve.


foto sari http://www.ariwahyono.com/
Menemui Yahudi Pemilik Sumur
Usai menyanggupi tawaran Rasulullah SAW tanpa reserve, Utsman menemui Si Yahudi. Beliau menyampaikan maksudnya hendak membeli sumur miliknya. Namun Si Yahudi menolak . Utsman terus berusaha membeli dengan menawarkan harga yang sangat tinggi namun Si Yahudi tetap menolak. "Aku tidak akan mendapatkan penghasilan setiap hari bila sumur ini aku jual kepadamu ,wahai Utsman!" Utsman yang cerdas tidak menyerah,beliau menawarkan satu opsi yang nantinya justru akan membuat Si Yahudi menjual sumurnya. Opsi tersebut adalah, Utsman membeli separuh dari sumur tersebut. Saya bayangan dialognya seperti ini
"Bagaimana kalau saya membeli setengahnya?:"
"Setengahnya? Emm boleh juga Ustman." Si Yahudi berpikir,jika dia jual setengah sumur maka dia akan mendapatkan penghasilan dari penjualan sumur yang tinggi dan juga ia akan tetap mendapatkan pemasukan setiap hari.
"oh ya bagaimana mekanisme menjual sumur setengah ini ,waha ustman?"
" Hari ini ,sumur ini milikmu. Besok menjadi milikku. Begitu terus secara bergantian.
SI Yahudi berbinar.

Sumur Dibeli Ustman Seluruhnya!
Tibalah hari di mana sumur milik Si Yahudi, penduduk Madinah  harus membayar untuk mendapatkan air. Ketika tiba hari di mana sumur tersebut milik Utsman, seluruh penduduk Madinah dibolehkan mengambil air secara gratis dan dihimbau agar menyimpan air dalam jumlah yang cukup dipakai sampai 2 hari karena keesokan harinya mereka harus membayar.
Apa yang terjadi ? ya , saat di mana sumur menjadi milik Yahudi, sumur tersebut sepi. Saat di mana sumur menjadi milik Ustaman, Sumur tersebut ramai. Berhari hari seperti itu tentu membuat Si Yahudi harus berpkir lain. Ia mendatangi Utsman bin Affan lalu memintanya agar membeli lagi separuh sumurnya sehingga seluruh sumur menjadi milik Utsman. Tentu saja Utsman mengiyakan. Dan pada akhirnya seluruh penduduk Madinah,termasuk Si Yahudi ,mantan pemilik sumur Raumah boleh menggunakan airnya secara gratis.

Bagi saya jalan berpikir Utsman dengan membeli sumur separo itu unik. Seperti sedang main catur,dia membuat langkah  yang membuat lawan seperti menguntungkan padahal kenyataannya malah mematikan,membuatnya kalah. Jujur saja ,saya kagum dengan cara berpikirnya.

Ternyata di sekitar sumur tersebut kini tumbuh pohon kurma ribuan pohon yang hasilnya dikelola pemerintah Arab Saudi untuk disalurkan ke fakir miskin  dan setengahnya disimpan di rekening dengan nama Utsman bin Affan. Masya Allah. Sungguh pada kisah kisah terdahulu terdapat pelajaran yang teramat bagus dan mahal. Semoga manfaat ya teman....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar