Member Of

KEB

Selasa, 08 Januari 2013

Nenek Penjual Lemper

Kemarin saya ke Superindo di DTC. Saya memilih parkir di dekat McD. Memasuki pintu masuk DTC saya dikagetkan dengan seorang nenek berpenampilan bersih dan ayu. Nenek itu ramah,menyapa dan manwarkan dagangan kepada siapa saja yang melintas termasuk saya. Saya curi-curi pandang,ternyata nenak itu menjual lemper bakar. Saya menoleh kepadanya dan tersenyum. Dalam hati saya timbul rasa iba. Ibu saya juga sudah renta dan masih berjualan di pinggir jalan dekat rumah tapi dagangan ibu saya selalu laris. SSudah puluhan tahun ibu saya berjualan di situ.

Seusai belanja,saya cepat-cepat pulang karena sudah malam. Saya kembali melewati nenek itu. Saya putuskan mampir sebentar. Lalu saya bertanya mengenai harga lemper. Saya pun membeli yang isi ayam. Nenek itu bersuku Jawa,bahasanya halus dan sangat ramah. Saya ingin mengakrabi dengan membalas bahasa Jawa yang beliau ucapakan namun sayangnya beliau enggak mendengar karena suasana memang sangat ramai.

Saya kembali teringat ke sebuah nasihat, "di kota itu,asalkan tidak malu,tidak gengsi, tai kucing digula-in saja laku dijual" . Iya ya, asalkan kita membuang malu dan gengsi, harusnya enggak ada istilah 'gak ada lapangan' pekerjaan. Tetangga saya yang tukang kambing seringkali kekurangan pegawai padahal pengangguran di kampung sini pasti tidak sedikit. Ironis memang, di satu sisi kekurangan pegawai tapi masiiih ada aja yang bilang gak ada lapangan pekerjaan.

Menurutku,sih kalau memang butuh gak perlu itu gengsi dan malu. Lha, wong halal ini,kecuali merampok atau menipu,baru,deh harusnya malu. Tapi kenyataannya banyak yang menjunjung tinggi rasa malu dan gengsi tidak pada tempatnya. Mentang-mentang lulusan universitas, maunya kerja langsung di tempat enak.,bergaji besar hingga dia enggak mau telaten untuk mulai dari bawah. Tapi ya semua itu pilihan,sih. Andaikan saya nganggur maka saya akan ambil aja pekerjaan yang ada sambil belajar hingga bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi. Tapi saya bukan pengangguran hehe. Ngomong-ngomong,berapa banyak lulusan dari kampus tiap tahunnya? berapa persen yang bekerja dan berapa persen yang nganggur?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar