Member Of

KEB

Jumat, 07 Juni 2013

Pekan Raya Depok

Panggung Utama 

Mungkin karena selama ini saya melilhat Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang begitu wah maka ketika melihat Pekan raya Depok ini rada mengkerut juga dahi saya. ‘Hanya’ seperti inikah Pekan Raya Depok? Ketika tiba masanya PRJ digelar, jalanan macet total, baleho yang mempromosikan ada di mana-mana, intinya gaungnya sungguh dasyat. Sedangkan PRD? Ya ampun, saya saja tidak tahu ada PRD kalau tidak membaca sebuah status facebook teman saya. Saya mencari-cari spanduk atau bahkan brosur yang mempublikasikan PRD namun tidak ada bahkan di perempatan yang ramai sekalipun. Hingga suatu hari teman saya memberi tahu di mana letak PRD.

Banyak tenda yang kosong

PRD di gelar di lapangan Ikarest yang sangat tidak nyaman karena kalau hujan biasanya sangat becek. Tanahnya tidak rata dan seperti banyak puing-puing. Menurut apa yang dikatakan MC di panggung utama, PRD yang berlangsung dari tanggal 30 Mei-9 Juni 2013 ini bertema Pembangunan. Tetapi saya tidak dapat ‘feel’ pembangunan. Malah menurut saya lebih mirip pasar malam yang suka berpindah pindah tempat itu hehe. Dengan HTM yang hanya Rp5000 , PRD ini memang sangat merakyat apalagi lokasinya di sebuah lapangan terbuka,berbeda dengan PRJ yang HTM nya sangat mahal dan berlokasi di sebuah gedung. Namun sayangnya, PRD yang dapat dikunjungi dari pukul 14.00-22.00 ini seperti kurang dimaksimalkan padahal menurut saya ini sangat potensial. Panitia seperti ‘ogah-ogahan’ mengelolanya karena lokasinya saja cenderung ‘gelap’. Tidak ada kesan meriah yang dapat menarik minat orang lewat. Kalau kita tidak sengaja menengok ketika sedang di berjalan, maka kita tidak akan tahu kalau ada sebuah pekan raya di situ. Lokasi relatif gelap, lampunya kurang bling bling, publikasi kurang maksimal dan kurang meriah. Mungkin karena publikasi yang tidak maksimal itulah yang menyebabkan beberapa stan tenda masih kosong. Bahkan pengunjung pun tidak ramai meskipun ada beberapa artis yang menghibur.

Penataan yang semwrawut

Peserta PRD pun kurang variatif. Rata-rata hanya para pedagang yang biasa mangkal di pasar kaget. Akan lebih dapat ‘feel’ pembangunan kalau  ada peserta dari home industri, sektor pertanian,perkebunan,dan lain sebagainya.  Keberadaan kemidi putar dan beberapa mainan anak-anak melengkapi kesan bahwa PRD mirip dengan pasar malam. Ya,tidak masalah memang mengenai keberadaan mainan anak-anak tapi penataan lokasinya hendaknya yang sesuai.
Intinya, meskipun terkesan merakyat tetapi PRD kurang maksimal dikelola. Tempat di lapangan terbuka memang memungkinkan rakyat  biasa menghadiri PRD apalagi dengan HTM yang murah .Akan tetapi,bukan berarti harus dengan pengelolaan yang seadanya seperti itu. Semoga tahun depan PRD menjadi lebih baik dan tidak kebablasan seperti PRJ yang awalnya ajang pesta rakyat tapi sekarang hanya rakyat tertentu saja yang mampu hadir.


2 komentar:

  1. oooh... itu Pekan Raya Depok tho? beberapa kali melintasi daerah itu, kukira pasar malam :-D

    BalasHapus
  2. lebih mirip kayak pasar malam biasa, ya

    BalasHapus