Member Of

KEB

Minggu, 20 Desember 2015

Istri Sebagai Tulang Punggung Kedua Part#1

 Kondisi ideal tidak selalu terjadi dalam sebuah rumah tangga dimana semua anggota keluarga dapat melaksanakan perannya tanpa hambatan. Suami mencari nafkah,istri di rumah mengurus anak-anak dan amanat suaminya yaitu mengurus rumah, pendidikan anak terjamin karena pendapatan suami mencukupi, asupan gizi anggota keluarga seimbang adalah beberapa indikasi sebuah kondisi keluarga ideal. Dengan kondisi ideal ini, istri tidak harus banting tulang peras keringat mencari nafkah demi penghidupan yang layak bagi keluarganya. Meskipun kenyataannya ,banyak istri yang banting tulang peras keringat demi hal lain, bukan untuk mencari nafkah. Untuk aktualisasi diri misalnya. Sebaliknya, apabila kondisi keluarga tidak ideal dimana suami tidak bisa melaksanakan tugas dan perannya (terlepas apapun alasannya) maka istri menjadi orang yang akan menyelamatkan keluarganya tersebut. Ia akan mengambil alih peran dan tugas suami terutama dalam hal mencari nafkah agar keluraga dapat menjalani kehidupan dengan layak. Memang ukuran layak dan tidak layak bagi tiap keluarga itu berbeda. Di mata orang lain bisa jadi sebuah keluarga dianggap kaya, berkecukupan padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Foto dari ensiklopediaindonesia.com
Penghasilan suami yang tidak memadai, suami tidak lagi bisa mencari nafkah (sakit misalnya), atau bahkan suami meninggal adalah kondisi-kondisi di mana istri harus mengambil peran sebagai tulang punggung. Jadi di sini peran seorang istri adalah sebagai tulang punggung kedua setelah suami. Bisa disebut sebagai penyelamat bagi keluarganya.

 Masalahnya adalah, siapkah kita,sebagai istri menjadi tulang punggung kedua tersebut? Meskipun saat ini keluarga kita tercatat sebagai keluarga ideal namun semua bisa berubah secepat membalikkan telapak tangan. Jadi, mempersiapkan diri untuk menjadi tulang punggung kedua adalah suatu keharusan bagi istri,. Banyak contoh dimana sebuah kapal yang bernama keluarga tidak lagi bisa berlayar setelah nahkoda tidak lagi mampu mengendalikannya. Seharusnya kapal tersebut tetap bisa berlayar andaikan partner Sang nahkoda telah mempersiapkan diri menjadi nahkoda pengganti. Tidak sedikit pula kenyataan kita temui di mana seorang istri mampu mengendalikan semuanya setelah ketidakmampuan suami. Ia mampu mengantarkan anaknya menuju gerbang sukses. Semua itu disebabkan , ibu atau istri telah mempersiapkan menjadi tulang punggung kedua.

*Bersambung...